Senin, 11 Juni 2012

KERASUKAN SETAN?

KERASUKAN SETAN?
Dalam guyuran hujan yang cukup deras, serta berdampingan dengan padatnya acara di Paroki HTBSPM, tim Pewartaan menyelenggarakan Bina Iman Dewasa untuk bulan April, tepat pada tanggal 30 April 2011 sesudah misa sabtu sore. Kali ini bertemakan “Exorcism (Pengusiran Setan) dibawakan oleh Pastor Triharsono, Pr. Karena keterbatasan tempat, acara ini diselenggarakan di Aula Seminari St Paulus Jl Surayalaya 7, gedung sebelah gereja. Di luar dugaan, peserta yang datang dari pukul 18.20, satu persatu, bertambah hingga sekitar 80 peserta. Sampai-sampai frater-frater seminari St Paulus bergotong royong menambahkan kursi duduk cukup banyak.
Eksorsisme 
Eksorsisme (dari Bahasa Latin akhir exorcismus, yang berasal dari Bahasa Yunani exorkizein - mendesak) adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau makhluk halus (roh) jahat lainnya dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sedang kerasukan setan. Praktek ini sudah cukup tua dan menjadi bagian dari sistem kepercayaan (agama) di berbagai negara.
Orang yang melakukan eksorsisme, dikenal dengan sebutan eksorsis, seringkali adalah seorang rohaniwan atau seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan atau kemampuan khusus. Eksorsis bisa menggunakan doa-doa dan hal-hal religius lainnya, seperti mantra, gerak-gerik, simbol, gambar/patung orang suci, jimat, dan yang lainnya. Sang eksorsis seringkali memohon bantuan Tuhan, Yesus dan/atau beberapa malaikat dan malaikat agung lainnya untuk ikut campur di dalam eksorsisme.
Eksorsisme di Indonesia 
Berdasarkan pengalaman pastor TriHarsono, di Indonesia, 99 persen kasus kerasukan setan yang dilaporkan atau dimintakan tolong ternyata bukanlah kasus kerasukan setan. Ternyata lebih karena faktor psikologis atau stres. Hal ini dialami pastor dengan pengalaman menolong yang cukup dengan memastikan gejalanya, dan mengajak ngobrol saja penderita. Sementara yang 1 persen betul-betul kerasukan setan, memang ada. 
Ciri-ciri Kerasukan Setan 
Ada beberapa gejala yang dapat digunakan untuk memastikan seseorang apakah kerasukan setan atau tidak.
1. Omongan yang keluar dari setan, dimana omongannya itu menolak Allah dan hal-hal sekitarnya, menolak iman.
2. Menakut-nakuti, menelanjangi kesalahan atau dosa orang.
3. Matanya menatap tajam, menantang.
4. Setan hanya bisa beraksi melalui mediator atau perantara.
Hal-hal Pengusiran Setan 
Semua orang bisa mengusir setan. Karena setan tidak dapat menyerang atau melukai manusia secara fisik. Namun pengusiran itu membutuhkan kesucian dan iman dari pengusir. Dan menurut Thomas Aquinas, tingkat kesucian imam dan umat sama saja, artinya baik umat maupun imam tetap mendapat godaan dosa dan juga terkadang terjerumus ke dalam dosa. 
Ada 7 hal yang dikatakan berhubungan erat dengan kesucian pengusiran setan:
1. Kesucian adalah kesetiaan, ketaatan orang dengan rela. Kesucian ini dapat ditempuh dengan doa, rohani dan mati raga.
2. Tamak, serakah. Tamak serakah tidak selalu dalam bentuk materi, tapi bisa juga non-materi, seperti natura. Misal makanan, ada saja imam yang tergoda untuk makan lebih banyak atau lebih enak.
3. Selibat. Selibat adalah salah satu kekuatan untuk mendukung kesucian.
4. Kesombongan, Tinggi Hati.
5. Kebodohan. Melakukan sesalahan yang sama berulang kali.
6. Pelayanan yang taat
7. Keunikan atau kekuatan masing-masing orang memberikan kekuatan kesucian seseorang.
Ada hal-hal yang mendukung pengusiran setan, seperti memanfaatkan doa Maria Sima, menyanyikan lagu (artinya kita bersyukur), dan juga tidak berkompromi dengan setan.
Pengusiran Setan Kristiani
Di dalam agama Kristiani, eksorsisme dilakukan dengan menggunakan "kuasa Kristus" atau "dalam nama Yesus". Hal ini berdasar pada kepercayaan bahwa Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk mengusir roh-roh jahat dalam nama-Nya (Injil Matius 10:1; 10:8; Injil Markus 6:7; Injil Lukas 9:1; 10:17; Injil Markus 16:17). 
Keperacayaan dalam agama Katolik Roma adalah, tidak seperti pembaptisan atau pengakuan dosa, eksorsisme merupakan sebuah ritual yang bukan sebuah sakramen Gereja Katolik. Tidak seperti sebuah sakramen, "integritas dan keberhasilan eksorsisme tidak bergantung pada penggunaan ucapan-ucapan yang kaku dan tepat, ataupun tata cara tindakan yang dilakukan dengan urut dan tepat. Keberhasilannya bergantung pada dua unsur: pemberian hak dari kuasa Gereja yang sah dan sesuai hukum, dan iman sang eksorsis". 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar