Senin, 11 Juni 2012

INJIL SINOPTIK

INJIL-INJIL SINOPTIK 

Tanggal 25 April 2010, jam 8.30, di Jl Jawa No 6, Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Bandung menyelenggarakan acara putaran ke-dua, setelah beberapa waktu lalu menyelenggarakan , kali ini seminar Injil-injil Sinoptik dengan judul “3 Wajah Yesus, seturut para penginjil Sinoptik”. 
Seperti biasa, Pa Herman mengabsen paroki pesertanya, dan semua paroki di Bandung mengirimkan wakilnya, dan mulailah pemaparan oleh Romo Bhanu. 

INJIL 
Dimulai dengan penjelasan istilah Injil. “Injil” berasal dari bahasa Arab, yang diturunkan dari kata Yunani euve,, yang dalam bahasa latin menjadi evangelium. Kata «euve,», dari sebelum masehi (kelahiran Yesus) mempunyai 3 arti, pertama kabar baik, kedua upah, dan ketiga adalah balas jasa yang diberikan pada orang yang membawa kabar baik. 
Sesudah masehi, kata injil tidak serta merta dipakai dalam arti Kitab Injil. Pada Mrk 1:1 memang tertulis; “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam ayat ini, kata injil tidak menunjuk pada kitab Markus itu, melainkan pada isinya, yaitu pewartaan dan terlebih isi pewartaan yang termuat dalam tulisan tersebut. 
Pemakaian kata injil dengan makna kitab Injil baru muncul pada awal abad kedua Masehi (± 110) dan tekanan tetap terletak pada “kabar baik” yang termuat di dalamnya, yaitu: “Kabar yang mengisahkan bagaimana Allah dengan cara-Nya yang khas mengerjakan keselamatan dalam dan melalui Diri Yesus Kristus.” 
Beberapa hal tentang Injil: 
• Injil merupakan suatu penafsiran atau gambaran tentang diri Yesus dan kabar gembira yang dibawanya. 
• Injil yang diakui gereja adalah tulisan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. 
• Injil berisi sabda dan karya Yesus yang ditulis sekitar 65 sd 90 Masehi sesudah Yesus wafat dan bangkit. 
• Injil bukan riwayat hidup Yesus. 
• Pewartaan rasuli Yesus adalah pemenuhan semua janji Allah. 
• Yesus merupakan pusat pemberitaan Injil. 
• Tanpa pribadi Yesus, tidak akan ada Injil Perjanjian Baru. 

SINOPTIK 
Sinoptik berasal dari kata sun = bersama + optik = melihat > melihat bersama, atau melihat dengan cara yang sama. Istilah sinoptik dikenakan pada Injil-injil yang ditulis oleh Markus, Matius dan Lukas. Dikatakan sinoptik karena memiliki banyak kemiripan. Istilah Sinoptik dipopulerkan oleh Griesbach pada tahun 1774M dengan cara menjajarkan perikop yang mirip dari ketiga Injil tersebut. 
Sinoptik dalam injil ini ditradisikan dalam 3 tradisi, yaitu Tripeks (mirip dalam 3 injil), Dupleks (mirip dalam 2 injil saja), dan Simpleks (hanya terdapat dalam satu Injil saja). 
Dikatakan mirip atau sinoptik, secara logika sah saja, karena terdapat ± 350 ayat yang sama dalam 3 kitab suci tersebut, dan ± 170-180 ayat dupleks antar injil Markus dan Matius, ± 30 ayat dupleks antar injil Markus dan Lukas, serta ± 230 – 340 ayat dupleks antara injil Matius dan Lukas. 
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa, Injil Markus adalah sentral, karena dipercaya merupakan sumber dari Injil-injil Matius dan Lukas. Namun Matius dan Lukas selain bersumber pada Injil Markus, mereka juga memiliki sumber masing-masing. Kekhasan inilah yang disebut simpleks. 


POSISI INJIL SINOPTIK 
Bunda Gereja yang Kudus dalam waktu yang lampau mempertahankan dan kini tetap berpegang pada pendapat dengan kukuh tanpa menariknya kembali, bahwa keempat Injil tersebut yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu dengan setia meneruskan yang ternyata dibuat dan diajarkan Yesus Putra Allah untuk keselamatan kekal manusia ketika Ia hidup di antara manusia sampai pada hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2) 
Adapun para pengarang suci menulis keempat Injil dengan memilih dari banyak bahan yang secara lisan atau tertulis telah diturunkan, dengan menyusunnya secara sintesis atau menguraikannya sesuai dengan situasi-situasi Gereja, akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, tetapi sedemikian rupa sehingga selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus. (Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum art. 19) 

PERSOALAN SINOPTIK 
Mari kita amati: 
1. Yesus menyembuhkan seorang sakit kusta 1:40-45 (Mat 8:1-4 Luk 5:12-16) 
2. Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta 8:1-4 (Mrk 1:40-45 Luk 5:12-16) 
3. Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta 5:12-16 (Mrk 1:40-45 Mat 8:1-4) 



Mateus 8:14-15 
14 Dan ketika Yesus pergi ke rumah Petrus, 


Ia melihat ibu mertuanya terbaring di tempat tidur dan sakit demam. 


15 Lalu Ia memegang kedua tangannya, dan demam itu meninggalkannya, dan ia pun bangunlah dan melayani Dia. 

Markus 1:29-31 
29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu, Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 
30 Ibu mertua Simon terbaring di tempat tidur karena sakit demam, Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 
31 Ia pergi ke tempat perempuann itu, dan sambil memegang tangannya, Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. 

Lukas 4:38-39 
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. 

Ibu mertua Simon demam keras dan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia. 

39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 


Ketiga teks paralel: amat mirip, tetapi juga amat berbeda. Ketiga penulis injil melukiskan satu kejadian yang sama, namun dari pandangannya masing-masing. 
Matius singkat, Markus dan Lukas lebih panjang. Orang yang terlibat pada Matius hanya ada Yesus, sementara pada Markus ada Yesus, Yakobus dan Yohanes, dan pada Lukas ada beberapa orang. Sementara nama Petrus dan Simon, orang yang sama, Nama Ibrani Petrus adalah Simon, Petrus nama resmi yang diberikan Yesus kepada Simon. 
Dan banyak hal lain yang dapat digali dari perbedaannya. Matius menggambarkan kunjungan pribadi Yesus ke umatNya, Yesus otoritas gereja. Markus menggambarkan kunjungan komunitas ke komunitas lain, Yesus senang berkumpul dengan jemaatnya. Dan Lukas menggambarkan kunjungan Imam ke umatNya, Yesus adalah tokoh rohani / spiritual. Namun, mereka semua menuliskan peristiwa yang sama, dan kuasa Yesus atas kekuatan jahat yang digambarkan sebagai penyakit. 

KESAMAAN INJIL MARKUS, MATIUS, LUKAS 
Kesamaan alur antara ketiga Injil: 
- Pembukaan: tampilnya Yohanes Pembaptis, Yesus dibaptis dan Yesus digoda (Mrk 1,2-13; Mat 3,1-4,11; Luk 3,1-4,13). 
- Karya di Galilea (Mrk 1,14-8,26; Mat 4,12-16,12; Luk 4,14-9,17) yang diakhiri dengan Pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi (Mrk 8,27-9,8; Mat 16,13-17,8; Luk 9,19-36) 
- Perjalanan dari Galilea ke Yerusalem (Mrk 9,9-10,52; Mat 17,9-20,34; Luk 9,37-19,28) 
- Hari-hari terakhir Yesus di Yerusalem dan kisah sengsara dan kebangkitan-Nya (Mrk 11,1-16,8; Mat 21,1-28,20; Luk 19,29-24,53). 
Dari hasil penelitian, tampaknya Injil-injil sinoptik disusun berdasarkan suatu skema tertentu, yaitu skema GEOGRAFIS (dari Galilea ke Yerusalem) dan skema KRONOLOGIS (dari baptisan Yohanes sampai kebangkitan Yesus). Tapi hal ini tidak berlaku untuk Yohanes yang mempunyai bahan-bahan & skema yang berbeda. 
INJIL MARKUS, MATIUS, LUKAS DAN YOHANES 
Injil Markus 
Injil Markus ditulis pada tahun 65-75 Masehi, dari bahan-bahan pewartaan yang dipakai Petrus di Roma. Injil ini berusaha menunjukkan bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah. Injil Markus dilambangkan dengan gambar Singa Bersayap, sering disebut Injil Muzizat. Dilambangkan dengan singa bersayap, menunjuk pada Nabi Yesaya kala ia memulai Injilnya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: `Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.'” “Suara orang yang berseru-seru di padang gurun” mengingatkan orang pada auman singa, dan roh nubuat yang turun ke bumi mengingatkan orang akan “pesan bersayap.” Singa juga melambangkan jabatan rajawi, suatu simbol yang tepat bagi Putra Allah. 
Injil Matius 
Injil Matius ditulis sekitar tahun 80-90 Masehi. Lingkungan penulisannya adalah jemaat Kristen Yahudi, sehingga Injil Matius bernuansa Yahudi dan banyak mengutip Perjanjian Lama. Injil ini berusaha menunjukkan bagaimana Kitab Suci Perjanjian Lama terpenuhi dalam diri Yesus. Injil Matius digambarkan dengan simbol Manusia Ilahi dan sering disebut sebagai Injil Katekis. Secara lebih spesifik, St Ireneus menjelaskan Matius dilambangkan dengan seorang manusia ilahi sebab Injil Matius menekankan kedatangan Yesus ke dalam dunia ini, pertama-tama dengan menyajikan silsilah keluarga-Nya “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Mat 1:1) dan inkarnasi serta kelahiran-Nya -“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut...” (Mat 1:18).“Maka inilah,” menurut St Ireneus, “Injil kemanusiaan-Nya; oleh sebab itulah juga, karaketer dari seorang manusia yang lemah lembut dan rendah hati terus dipelihara sepanjang keseluruhan Injil.” 
Injil Lukas 
Injil Lukas juga ditulis tahun 80-90 Masehi untuk jemaat yang sebagian besar terdiri dari bangsa-bangsa bukan Yahudi. Injil ini melukiskan betapa besar belas kasih Yesus kepada umat manusia, karenanya disebut Injil Universal, disimbolkan dalam gambar Lembu Bersayap. Lembu dipergunakan dalam kurban-kurban di Bait Suci. Sebagai contoh, ketika Tabut Allah dibawa ke Yerusalem, apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, dikorbankanlah seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan (2 Sam 6). Lukas memulai Injilnya dengan pemaklumkan kelahiran Yohanes Pembaptis kepada ayahnya, yakni seorang imam yang bernama Zakharia, yang sedang mempersembahkan kurban di Bait Suci (Luk 1). Lukas juga mencatat kisah tentang Anak yang Hilang, di mana anak lembu tambun disembelih, bukan hanya untuk merayakan pulangnya si anak yang hilang, melainkan juga untuk menggambarkan sukacita yang pastilah kita alami dalam memperoleh rekonsiliasi dengan Bapa melalui Juruselamat kita yang Mahabelas-kasih, yang sebagai Imam mempersembahkan DiriNya Sendiri sebagai kurban demi pengampunan dosa-dosa kita. Sebab itu, lembu bersayap mengingatkan kita akan karakter imamat Tuhan kita dan kurban-Nya demi penebusan kita. Dan dari Injil ini kita dapatkan Ave Maria (1:28-33), Gloria in Exelsis (2:13-14). 
Injil Yohanes 
Berbeda dengan Injil sinoptik, Injil Yohanes adalah permenungan yang sangat mendalam mengenai Yesus sebagai Sabda Allah. Injil ini ditulis pada tahun 95-100 Masehi dan simbolkan dengan Rajawali terbang tinggi. Injil Yohanes dimulai dengan prolog yang “tinggi” dan “melambung” guna menembus masuk hingga kekedalaman yang paling dalam dari misteri-misteri Tuhan, hubungan antara Bapa dan Putra, dan inkarnasi:“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:1-3) dan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Injil Yohanes, tidak seperti Injil-Injil lainnya, membawa pembaca masuk ke dalam ajaran-ajaran paling mendalam dari Tuhan kita, seperti percakapan panjang antara Yesus dengan Nikodemus, juga dengan perempuan Samaria; ajaran-ajaran indah mengenai Roti Hidup dan Gembala Yang Baik. Yesus juga menyebut DiriNya sebagai “jalan, kebenaran dan hidup,” dan siapa pun yang sungguh percaya kepada-Nya akan dibangkitkan ke kehidupan kekal bersama-Nya. 
Yang ingin ditunjukkan Yohanes adalah Yesus yang disalib masih tetap hidup sekarang dan memberikan RohNya. Melalui tanda yang dikerjakan Yesus, kita dipanggil untuk percaya dan kemudian pada gilirannya menjadi tanda bagi seluruh dunia. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar