Sabtu, 02 Februari 2019

Rayap Kayu Kapal

Dikisahkan dua orang laki-laki bekerja keras membuat sebuah perahu. Ketika sedang sibuk bekerja mereka berdua menemukan rayap disebuah papan. Salah seorang dari mereka kemudian ingin membuang papan itu tapi temannya melarang. Dia berkata, ”kenapa papan ini dibuang? Kan sayang. Lagipula tidak ada masalah. Cuma kena rayap sedikit saja.” Harga papan ini lumayan mahal loh.... Karena tidak ingin mengecewakan temannya, papan yang ada rayapnya pun digunakan untuk membuat perahu. Selang beberapa hari, perahu pun selesai dan sudah bisa digunakan untuk melayari lautan. Tapi beberapa bulan kemudian, rayap-rayap itu ternyata bertelur dan menetas. Rayap-rayap itu kemudian menggerogoti kayu kapal. Bahkan rayap-rayap itu menyebar kemana-mana hingga memakan kayu yang ada di lambung kapal. Kapal terus digunakan dan tak seorang pun sadar hingga akhirnya, kayu-kayu perahu itu pun mulai keropos. Dan, ketika dihantam oleh ombak besar, air berhasil menembus masuk dari celah-celah dan lubang-lubang kayu. Karena hujan juga sering turun dengan deras, para awak perahu tidak mampu lagi menguras air yang masuk ke dalam perahu sehingga akhirnya perahu itu karam. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga dan nyawa manusia. .... Sahabatku, Kalau saja kita sadar bahwa malapetaka besar ini sebenarnya berasal dari hal yang remeh dan tidak berharga seperti papan yang sudah kena rayap. Kalau saja ketika membuat perahu dahulu papan itu dibuang, tentu saja malapetaka ini bisa dicegah. Dan, begitulah kalau pada kenyataannya kita sering tidak sadar kalau perbuatan-perbuatan kesalahan kecil dan remeh yang kita lakukan kadang-kadang justru malah menimbulkan malapetaka besar. orang bijak pernah berkata :"Berhati-hatilah dan berhematlah atas pengeluaran-pengeluaran kecil. kebocoran kecil bisa membuat kapal tenggelam."

Sabtu, 26 Januari 2019

Balap Empat Babak Kelinci melawan Kura-kura

Suatu pagi, di sebuah hutan, kelinci dan kura-kura bertemu dekat sebuah sungai. Mereka berjemur dan mengobrol. Kelinci mulai membangga-banggakan dirinya sendiri. “Kura-kura, kau tahu? Aku adalah pelari tercepat di dunia,” kata kelinci sombong. “Eh, sembarangan. Ayo kita buktikan. Kita balap 4 babak balap lari. Bagaimana? Kau berani?” tantang kura-kura. Kelinci semakin tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha, baiklah jika itu maumu. Akan kubuktikan bahwa aku pelari tercepat di dunia. Bukan kau.” “Oke! Aku juga akan buktikan,” kata kura-kura mantap. Sebenarnya kura-kura tahu ia tidak akan menang adu lari melawan kelinci. Tapi, ia ingin memberi pelajaran kepada kelinci yang sombong. 1. Babak pertama Kelinci berlari sangat cepat, dan kura-kura tertinggal jauh di belakang. Melihat kura-kura yang tertatih berjalan lambat, membuat kelinci terlena. Kelinci memutuskan untuk beristirahat sebelum garis akhir, dan jatuh tertidur. Dan kura-kura bisa melewati kelinci mendahului ke garis akhir. Kura-kura memenangi babak pertama. 2. Babak kedua Mengingat kekalahan pada babak pertama, kelinci berlari tanpa henti meninggalkan kura-kura jauh di belakang, dan mencapai garis akhir. Kelinci memenangi babak kedua. 3. Babak ketiga Kali ketiga, kura-kura mengatakan kalau di babak ini dia yang menentukan rute lari. Kelinci dengan sombong menyanggupi. Setelah berlari cepat, kelinci terhenti di pinggir sungai. Rupanya dalam jalur ini kelinci harus menyeberangi sungai. Dan kelinci tidak dapat berenang termangu di pinggir sungai. Hingga terlewati oleh kura-kura yang bisa berenang. Kura-kura memenangi babak ketiga. 4. Babak keempat Untuk babak keempat. Kura-kura mengajak kerja sama. Di jalur darat, kelinci menggendong kura-kura. Di sungai, kura-kura berenang menggendong kelinci. Akhirnya kelinci dan kura-kura dapat menyelesaikan lomba bersama-sama. Menang bersama-sama... Silakan nilai sendiri nilai dari tiap babak...

Selasa, 08 Januari 2019

Orang buta dan Lentera

Suatu ketika, seorang buta hendak pulang dari rumah sahabatnya. Ketika ia akan pulang, hari sudah malam. Sahabatnya tersebut kemudian membekali orang buta ini dengan sebuah lentera. Orang buta itu tertawa dan bertanya, “Buat apa saya membawa lentera? Dengan atau tanpanya, saya memang tak bisa melihat! Sudah, tak perlulah saya membawa lentera itu!.” Sang sahabat itu kemudian dengan lembut menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihatmu dan tidak menabrakmu saat berjalan.” Setelah perdebatan singkat, orang buta itu setuju untuk membawa lentera. Baru berjalan selama lima menit, ada orang yang menabraknya. Orang buta yang kaget ini berkata dengan tidak senang, “ Hei! Kamu kan punya mata! Berilah jalan untuk orang buta!” Tanpa menjawab, orang itu berlalu. Baru berjalan lagi selama 10 menit, ada orang lain yang menabraknya. Orang buta ini makin marah dan berkata, “Kamu buta ya? Tidak bisa lihat? Aku sudah bawa lentera mengapa masih kau tabrak?” Orang itu kemudian menjawab dengan sama marahnya, “Kamu itu yang buta! Apa kamu tidak tahu bahwa lenteramu sudah padam?” Si buta itu terdiam sejenak lalu setelah sang penabrak sadar denga situasinya, ia langsung berkata, “Astaga, maaf sekali. Sayalah yang buta karena tidak menyadari bahwa Anda tak bisa melihat. Mari saya bantu untuk menyalakan lagi lentera Anda.” Orang buta ini kemudian juga meminta maaf karena sudah berkata kasar dan tidak sadar bahwa lenteranya telah mati. Mereka kemudian berpamitan dengan sopan lalu melanjutkan perjalanan masing-masing. Setelah berjalan kurang lebih lima menit, orang buta ini ditabrak lagi oleh orang lain. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama, orang buta ini bertanya dengan sopan, “Maaf, apakah lentera saya padam sehingga Anda tak bisa melihat saya?” Lucunya, penabrak itu justru berkata, “Wah, justru saya juga hendak menanyakan hal itu!” Dua orang ini kemudian terdiam sesaat lalu si buta bertanya, “Apakah Anda buta?” Penabrak itu berkata, “Ya!” Setelah itu mereka berdua pun tertawa bersama menertawakan kebutaan mereka. Dua orang ini kemudian saling bantu menemukan lentera yang jatuh gegara tabrakan tadi. Saat sedang mencari-cari dalam gelap, ada orang yang lewat dan tidak membawa lentera. Hampir saja ia menabrak dua orang buta itu. Untung ia tidak menabraknya. Ia langsung berlalu karena tak tahu bahwa keduanya buta. Orang ini hanya berpikir, “Saya tentu butuh membawa lentera supaya tidak menabrak orang lain. Jika ada yang membutuhkan cahaya, saya juga bisa meminjamkan padanya.” Apa makna dari cerita ini? Lentera di sini menggambarkan kebijaksanaan. Membawa lentera berarti memiliki dan mengamalkan kebijaksanaan dalam hidup. Sama halnya dengan lentera, kebijaksanaan dapat melindungi kita dari berbagai macam rintangan dan ‘tabrakan’ yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup. ____________________________________ Lalu apa makna perjalanan si orang buta tadi? Awalnya, si buta mewakili orang yang benar-benar gelap batinnya. Ia angkuh, bebal, egois, dan penuh kemarahan. Jika ada kesalahan, ia selalu menunjuk orang lain. Ia tak sadar bahwa kesalahan sebenarnya juga banyak pada diri sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai belajar bahwa apa yang awalnya ia yakini tidaklah benar. Si buta ini menjadi lebih bijak setelah mengalami sejumlah peristiwa. Ia lebih rendah hati dan merasa bahwa dalam dirinya juga ada banyak kesalahan. Ia menjadi rendah hati karena sadar akan kebutaannya dan sadar akan kebutuhannya akan bantuan orang lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Penabrak pertama mewakili orang pada umumnya. Mereka tak sadar dan tak peduli dengan apapun yang terjadi. Penabrak kedua mewakili orang yang bertentangan dengan kita. Mereka sebenarnya bisa menunjukkan kesalahan kita dan bisa menjadi guru-guru terbaik untuk kita. Beranikah kita dibenahi oleh orang lain? Orang buta kedua mewakili mereka yang sama gelap batinnya dengan kita. Jangan sampai kita meminta pertolongan dari orang yang sama-sama buta dan tak punya lentera. Lalu orang terakhir menggambarkan mereka yang masih buta namun sadar akan pentingnya lentera kebijaksanaan. Siapakah diri kita dalam kisah ini? Sudahkah kita memiliki atau mencari lentera kebijaksanaan dalam hidup?

Senin, 10 Desember 2018

TEMAN SEJATI

Ada sebuah pohon yg sedang berbuah lebat, buahnya terlihat kuning keemasan dan sangat menggiurkan. Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut, dengan suara tinggi berteriak memuji pohon tersebut. "Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buahmu ini." Pohon yang mendengar pujian tersebut berkata kepada burung jalak, "Teman, tinggallah di atas saya!" Kemudian, seekor burung kenari terbang dan hinggap di atas dahan pohon tersebut, sambil bernyanyi, "Pohon ini sangat hijau, buahnya sangat harum dan kelihatan enak." Pohon berkata kepada burung kenari ini, "Jika engkau ingin memakan buah in, ambil saja!" Tiba-tiba seekor burung belatuk terbang ke pohon tersebut. Ia mematuk-matuk di sana-sini di badan pohon itu, patukannya membuatkan pohon sangat sakit, sambil menjerit kesakitan berteriak kepada burung belatuk. Burung belatuk berkata, "Aku melihat di dalam tubuh kamu ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar, jika tidak kamu akan sakit dimakan ulat." Si pohon dengan marah berkata, "Jangan bercakap kosong, engkau mematuk aku kerana sengaja ingin membunuh aku, cepat pergi dari sini!" Burung belatuk akhirnya terbang pergi. Tidak berapa lama kemudian, pohon itu menderita sakit, daunnya berubah kuning kemudian gugur. Dahannya juga layu, tidak berbuah lagi. Burung jalak terbang meninggalkannya, burung kenari juga tidak datang bernyanyi lagi. Pada saat itu burung belatuk datang lagi, walau bagaimanapun pohon menjerit kesakitan, ia tidak peduli, burung belatuk terus mematuk hingga seluruh ulat di pohon terpatuk habis. Beberapa hari kemudian, pohon itu tumbuh kembali, daun-daun hijau mula kelihatan, kemudian ia berbuah lagi. Pohon itu dengan perasaan terharu berkata, "Yang bernyanyi dan memuji kita belum tentu teman baik, tetapi yang bersedia menunjukkan kekurangan kita dan membantu kita, itulah teman sejati."

Rabu, 14 November 2018

Lebih kaya dari Bill Gates

Seseorang bertanya pada Bill Gates, "Adakah orang yang lebih kaya dari dirimu?" • Bill Gates menjawab hanya satu orang. Bill Gates mulai cerita: Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku belum sekaya ini, aku pergi ke bandara New York. Aku membaca surat kabar yang digelar di sana. Aku tertarik pada salah satu surat kabar tersebut, aku ingin membelinya ternyata uangku tidak cukup. Tiba-tiba seorang pria kulit hitam memanggil saya dan mengatakan, "Koran ini untuk Anda" Aku berkata, "Tapi uangku tidak cukup" Dia berkata "Tidak masalah, aku memberikan anda gratis" • Setelah 3 bulan, aku pergi lagi ke bandara New York. Secara kebetulan cerita itu terjadi lagi, anak yang sama memberiku koran gratis. Aku bilang aku tidak bisa menerimanya lalu ia berkata, "Aku akan memberimu keuntungan dari apa yang telah aku lakukan" Setelah lewat 19 thn, aku sudah kaya dan aku memutuskan untuk menemui anak itu. Aku menemukannya setelah satu setengah bulan mencarinya. Aku bertanya padanya, "Kau kenal aku?" Dia bilang, "Ya, kau terkenal. Namamu Bill Gates" Aku bilang, "Beberapa tahun yang lalu kau memberiku surat kabar gratis 2 kali, sekarang aku ingin mengimbangimu. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan" Pemuda kulit hitam itu menjawab, "Anda tidak dapat mengimbangiku" Aku tanya kenapa? Dia berkata : *"Karena aku memberimu ketika aku miskin sedangkan Anda ingin memberi saya ketika Anda kaya. Jadi bagaimana Anda bisa mengimbangiku?* Bill Gates bilang: Kurasa pria kulit hitam itu lebih kaya dari aku. Pelajaran berharga yang kuambil darinya adalah kita tidak harus menunggu kaya untuk memberi sesuatu. Memberi dari kelebihan itu biasa, tetapi memberi dari kekurangan kita itu tidak biasa dan sangat luar biasa dan tidak banyak orang yg melakukannya. Jangan menunda untuk memberi, Jangan terlalu banyak berpikir/hitung2an untuk memberi, Jangan memandang Suku, Agama, Ras dan status sosial dalam memberi.💙 Berilah, maka kamu akan diberi Lebih banyak berkat memberi daripada menerima!

Jumat, 05 Oktober 2018

Bulu Kemoceng

Seorang murid meminta maaf kepada gurunyayang telah difitnahnya. Sang guru hanya terseyum. “Apa kau serius?” tanya sang guru. “Saya serius, Guru, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.” Sang Guru terdiam sejenak. Lalu ia bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng di kamarmu?” “Ya, saya punya sebuah kemoceng Guru. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?” “Besok pagi, berjalanlah dari kamarmu ke pondokku. Berkelilinglah lapangan sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui. Kamu akan belajar sesuatu darinya.” Keesokan harinya, sang murid menemui Guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun pada gagangnya. Ia segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada Sang Guru. “Ini, Guru, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo dari kamar saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Guru. Maafkan saya, Guru.” Sang Guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah. Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju pondokku. Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.” Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan perguruan ini.Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui. Sang murid terus berjalan. Setelah berjam-jam, ia berdiri di depan kamarnya dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya ada lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan. Hari berikutnya sang murid menemui Sang Guru dengan wajah yang murung. "Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang Guru. "Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang Guru. “Apa yang telah aku pelajari, Guru?” “Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Sang Guru. “Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kamu duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kamu hitung! “Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri. Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. “Tetapi kamu tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya." “Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. “Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

PELACUR DAN ROHANIWAN

Seorang rohaniwan yang sudah terkenal super sibuk dengan pengikut melebihi angka satu juta mendapat laporan dari salah seorang muridnya. "Guru, persis di depan rumah Guru, rumah kosong itu sekarang dikontrak seorang wanita yang tidak bersuami. Ia janda dan setiap sore ia menerima tamu. Ada yang datang berkendaraan Audi, ada yang menggunakan Mercedes, ada yang memakai BMW. Wanita itu pasti seorang pelacur, seorang tunasusila. Guru kenapa tidak mengundang, menasehati, supaya sadar. Bukankah perzinahan itu diharamkan oleh agama?" Sang Guru menganggap laporan itu sebagai suatu tantangan. Ia harus menyadarkan pelacur itu. Ia tidak mempersoalkan kekonyolan muridnya yang selama ini lebih memperhatikan para pengunjung pelacur daripada pelajarannya. Si pelacur dipanggil. Sambil mengucapkan salam, ia memasuki ruangan Guru. "Maafkan saya, Guru, saya seorang yang berdosa. Itu sebabnya sebelum ini saya tidak pernah datang ke tempat Guru." "Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu. Rupanya kau sadar pula bahwasanya apa yang kau lakukan itu dosa. Lantas kenapa kau melakukannya?" tanya sang Guru. "Maafkan saya sekali lagi, Guru. Saya orang desa, tidak berpendidikan tinggi. Datang ke kota ini karena janji akan diberi pekerjaan. Adik-adikku di kampung dalam keadaan susah. Ayah telah menceraikan ibuku yang sekarang ini sedang sakit-sakitan. Jadi, terpaksa saya ke kota. Ternyata saya ditipu oleh mafia di kota ini, dan saya terdampar dalam dunia gelap," wanita tadi menjelaskan latar belakangnya dan menangis. "Sudahlah, nah sekarang carilah pekerjaan yang baik. Tinggalkan pekerjaanmu yang jelek itu." - demikian nasehat sang Guru. "Baik Guru, terima kasih atas nasehatnya," sambil mengucapkan salam, wanita yang dianggap "tunasusila" itu pamit pulang. Beberapa hari berikutnya, cuaca cukup cerah. Namun tidak berlangsung lama, pada suatu sore sang murid mengeluh lagi. "Guru, wanita itu belum sadar-sadar juga. Ia masih menerima tamu." Sang Guru dengan berang berkata, "Panggil dia kemari. Biar Guru menasehatinya lagi." Kali ini wanita tunasusila itu datang dengan mata merah, bengkak, sepertinya baru menangis. Rupanya sebelum disuruh menghadap sang Guru, si murid tadi sudah menegurnya. "Belum sadar juga kau rupanya?" Sang Guru sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Kamu sudah dikuasai setan." "Guru, apa yang harus saya lakukan? Selama seminggu saya tidak menerima tamu. Saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di situ saya diperkosa oleh majikan saya. Padahal dia juga seorang rohaniwan, Guru juga pasti kenal dia. Saya pikir kalau memang demikian, lebih baik sekalian saja saya menjual diri, sudah ketahuan akan dibayar cukup, masih bisa mengirim uang ke kampung," kata wanita itu menangisi nasibnya. "Salah kamu juga. Kau pasti pakai pakaian yang tidak sopan, merangsang majikanmu. Padahal majikanmu itu kan teman baik saya. Kalau kamu pakai pakaian yang begitu merangsang, siapa saja akan tergoda. Itulah kesalahan kamu," sang Guru malah membela majikan sang wanita. Wanita tunasusila itu baru sadar, betapa tunasusilanya masyarakat. "Aneh, kalau para pria merasa terangsang, apa tidak sebaiknya mereka yang harus menggunakan tutup mata? Apa salahnya wanita? Dan kalau seorang rohaniwan saja masih tidak dapat mengendalikan dirinya, lantas apa gunanya dia menjalani kehidupan suci?" "Kau betul-betul sudah dipengaruhi oleh setan. Yang berbicara itu setan. Wanita memang sudah dikodratkan untuk tunduk dan patuh pada kaum pria. Tidak ada harapan lagi bagi kamu, pergilah dari sini," kata sang Guru dengan sangat marah. Sekarang bukan hanya sang murid saja yang memperhatikan pintu rumah wanita tunasusila itu, sang Guru pun mulai memperhatikan siapa saja yang mengunjunginya, jam berapa saja. Setiap kali ada yang mengunjungi rumah itu, sang Guru mengambil satu batu kerikil dan meletakkan di atas meja sudut. Dalam satu bulan saja tumpukannya sudah cukup lumayan, mungkin 90-an batu. Melihat tumpukan itu, menghitung dosa-dosa wanita tunasusila itu, sang Guru sudah tidak dapat menahan diri lagi. Sekali lagi, ia mengirimkan utusan untuk memanggilnya. "Lihatlah tumpukan batu kerikil itu, semua itu dosa-dosamu." Si pelacur tetap membisu, air mata mengalir terus, membasahi pipinya. Tanpa pamit, ia langsung pulang. Beberapa hari kemudian, sang Guru yang memang sudah tua itu meninggal dunia. Ia didatangi oleh malaikat berseragam hitam. Roh sang Guru berang. "Eh, kalian salah, yang menjemput saya seharusnya Utusan dari Surga. Mereka berseragam putih. Demikianlah yang saya baca dalam buku-buku suci selama ini." "Memang kami dari Neraka, tetapi tidak salah. Dalam surat perintah yang diberikan kepada kami, memang nama Anda yang tercantum." Utusan Neraka menunjukkan surat perintahnya. Roh Guru memeriksa keabsahan surat itu, capnya juga sudah benar. Persis demikian menurut kitab-kitab yang dia pelajari selama ini. Tetapi kenapa harus Utusan Neraka yang menjemput dia? Ia menoleh ke bawah, jasadnya dikerumuni oleh massa, sesaat lagi ia akan dikuburkan. Para murid mengelilingi jasadnya sambil membacakan doa-doa. "Lihatlah, lihatlah mereka begitu menghormati jasadku. Kau salah. Seharusnya aku dijemput oleh Utusan Surga yang berseragam putih." Utusan Neraka melihat ke bawah. Benar juga, memang jasad sang Guru dihormati. Ia pun berpikir kembali, mungkin dia salah. Mungkin terjadi kesalahan teknis. Sambil mengeluarkan telepon genggamnya, Utusan Neraka memohon kesabaran kliennya itu. "Ternyata tidak salah, memang kau yang harus ke Neraka," - setelah bicara dengan Manajer Perusahaan Tak Terbatas tadi, Utusan Neraka menjelaskan kepada roh sang Guru. "Wah ini kolusi, korupsi, di Neraka dan Surga rupanya ada sistem nepotisme, harus ada reformasi. Tunggu dulu, kalau saya ke sana, saya akan melakukan reformasi besar-besaran. Dan kau, Utusan Neraka, kau sudah bisa menghitung hari-harimu. Sebentar lagi akan kena PHK. Saya akan melaporkan hal ini kepada Tuhan," roh sang Guru sudah tidak dapat menahan diri lagi. Sebenarnya Utusan Neraka pun sudah bingung. Di mana kesalahannya? Sementara roh sang Guru masih mencaci-maki dia. Tiba-tiba, eh itu apa lagi, lihat di sana itu, ada Utusan Surga berseragam putih: "Sedang ke mana dia?" roh sang Guru bertanya. "Panggil dia, dia pasti sedang menjemput saya. Coba lihat surat perintahnya." Utusan Neraka menggunakan HP-nya, untuk menghubungi Utusan Surga. "Kawan, kau mau ke mana? "Ah, kawan, aku sedang menjemput seorang wanita nih." jawab Utusan Surga. "Wanita yang mana?" tanya Utusan Neraka. "Wanita tunasusila katanya." Utusan Surga menjelaskan. "Tidak salah kau, sahabatku? Rupanya surat perintah kita tertukar. Saya justru disuruh menjemput Guru. Dia lagi marah-marah. Tinggalnya di mana wanita itu?" tanya Utusan Neraka yang merasa penasaran. "Wah harus di cek ulang nih, rupanya wanita itu tinggal persis di depan rumah Guru yang kau jemput itu?" Utusan Surga tak kalah terkejut. "Kalau begitu, ya kau jemput saja wanita itu, dan kita bertemu di Lobby Wisma Surga-Neraka. Saya juga ke sana dengan roh Guru yang saya jemput." Utusan Neraka memberi solusi. "Lihat itu, betul kan, kalian sudah tidak becus mengurus semuanya ini. Sudah terlalu lama tidak terjadi pembaharuan. Harus dilakukan reformasi. Tunggu saja kalian, nanti kalau murid-murid saya mati, saya akan ajak roh-roh mereka berdemonstrasi. Kalian harus mengundurkan diri. Salah melulu-salah melulu. Seorang Guru dibawa ke Neraka, seorang pelacur dibawa ke Surga." Roh Guru mendapat angin segar, harapan baru. Tiba di Lobby Wisma Surga-Neraka, roh Guru menghindari kontak mata dengan roh sang Pelacur yang menyalaminya. "Guru, tadi aku mendengar pembicaraan Utusan Surga yang menjemput aku, dengan Utusan Neraka yang menjemput Guru. Aku sudah tahu, pasti terjadi kesalahan. Maafkan aku. Setelah mati pun aku masih menyusahkan Guru." "Sudah-sudah, cukup, tidak usah bertele-tele. Bukankah dari dulu sudah aku katakan, kau sudah kena hasutan setan, memang nerekalah tempat yang paling tepat bagi kamu." Roh Guru memang sudah kesal. Sementara para penjemput mereka sibuk memeriksa data-data komputer di ruang atas, mereka dipersilahkan menunggu di Lobby. Sang Guru, karena statusnya masih "klien neraka", disuguhi air putih. Sang Pelacur, yang statusnya"klien surga", disuguhi orange-juice. Sang Pelacur merasa malu, ia menawarkan juice itu kepada sang Guru. "Sudah-sudah, kau saja yang minum. Sebentar lagi juga kau menjadi penghuni Neraka, di sana minum air putih terus, sampai kembung perutmu. Sekarang minum saja juice itu, kau tidak akan mendapatkan juice lagi, sampai hari kiamat," sang Guru tidak dapat menutupi rasa kecewanya. Aneh sekali, tetapi ternyata tidak ada kesalahan data. Memang roh sang Guru harus masuk Neraka dan roh Pelacur harus masuk Surga. Print-out komputer menjelaskan: "Sepanjang hidupnya, Guru yang dimaksudkan, selalu menghitung dosa-dosa orang lain. Ia selalu memikirkan kesalahan orang lain. Pikiran dia kacau. Penuh dengan kebencian, tidak pernah tenang, sehingga roh dia harus menjalani proses pembersihan di Neraka. Sementara itu, karena mulut dia merupakan bagian dari fisiknya, dari badan kasatnya, banyak juga membicarakan tentang hal-hal yang baik, maka badan kasatnya dihormati orang banyak, dan jasadnya dikuburkan dengan upacara penuh khidmat. Tetapi rohnya harus ke Neraka. Sebaliknya, sang Pelacur memang melacurkan badannya. Itu sebabnya tidak ada yang mengurusi jasadnya. Mungkin mayatnya akan menjadi makanan anjing-anjing jalanan. Tetapi, pikiran dia selalu bersih. Ia selalu menyesali perbuatannya sehingga rohnya layak menghuni Surga."