Jumat, 27 Juli 2018

Batu kecil

Seorang mandor bangunan yg berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja di bawah. Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan. Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja. Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tersebut dan melanjutkan pekerjaannya. Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja. Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor. Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, Tuhan selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-NYA. Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang. Bahkan kita selalu bilang, "Saya lagi beruntung." Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki yang berasal dari Tuhan. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah agar kita mau menoleh kepada-NYA. Sungguh Tuhan sangat mencintai kita. Marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-NYA sebelum mendapat lemparan batu kecil.

Fokus

Ada seorang anak yang setiap hari rajin sholat ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya, "Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi" "Lho kenapa?" sahut sang ayah. "Karena di masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain". Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu". "Apa itu?" "Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah". Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?", "Sudah". "Apakah ada yang tumpah?" "Tidak". "Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?". "Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak. "Apakah di masjid tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?", tanya sang ayah lagi. "Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas". Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, "Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu". Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif.

Minggu, 15 Juli 2018

Saat Hening

Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. ‘Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?’ Tanya si tukang kayu. ‘Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘to-tak, tok-tak’. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada.’ Anak itu menjawab. Renungan : Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kegaduhan’. Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik . Maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.

Selasa, 03 April 2018

Kebaikan membawa kebaikan

Presiden Xi Jin Ping dari Tiongkok berkata: Ketika saya masih kecil, saya sangat egois, selalu mengambil yang terbaik untuk diri saya sendiri. Perlahan-lahan, semua orang meninggalkan saya dan saya tidak punya teman. Saya tidak berpikir itu salah saya tetapi saya mengkritik dan menyalahkan orang lain. Ayah saya memberi saya 3 kalimat untuk membantu saya dalam hidup. Suatu hari, ayah saya memasak 2 mangkuk mie dan meletakkan 2 mangkuk di atas meja. Satu mangkuk hadir dengan satu telur di bagian atas mie dan mangkuk lainnya tidak memiliki telur di atasnya. Ayah berkata, "Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan ”. Telur sulit didapat saat itu! Hanya bisa makan telur selama festival atau Tahun Baru. Tentu saja saya memilih mangkuk dengan telur! Saat kami mulai makan. Saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri atas pilihan dan keputusan bijak yang saya lakukan dan mendapatkan telur itu. Lalu saya terkejut ketika ayahku makan mie, ada dua telur di bawah mangkuknya, tersembunyi di bagian bawah mie! Saya sangat menyesal! Dan memarahi diriku sendiri karena terlalu terburu-buru dalam keputusanku. Ayah saya tersenyum dan iba kepada saya, ”Anakku. Kamu harus ingat apa yang dilihat mata Anda mungkin tidak benar. Jika kamu berniat mengambil keuntungan dari orang-orang, kamu akan berakhir dengan kekalahan!” Keesokan harinya, ayah saya kembali memasak 2 mangkuk mie: satu mangkuk dengan telur di atasnya dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. Sekali lagi, dia meletakkan dua mangkuk di atas meja dan berkata kepada saya, ”Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan? ”Kali ini saya lebih pintar. Saya memilih mangkuk tanpa telur di atasnya. Yang mengejutkan saya, saat saya memisahkan mie di atas, tidak ada satu pun telur di dasar mangkuk! Sekali lagi ayah saya tersenyum dan berkata kepada saya, “Anakku, kamu tidak harus selalu bergantung pada pengalaman karena kadang-kadang, hidup dapat mengecohmu atau menipu kamu. Tetapi kamu tidak boleh terlalu jengkel atau sedih, hanya memperlakukan ini sebagai pengetahuan yang kamu dapat sebagai proses pembelajaranmu. Kamu tidak akan mendapatkan pelajaran semacam ini dari buku teks. Hari ketiga, ayah saya lagi memasak 2 mangkuk mie, lagi satu mangkuk dengan telur di atas dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. Dia meletakkan 2 mangkuk di atas meja dan kembali berkata kepada saya, ”Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan?”. Kali ini, aku memberi tahu ayahku, "Ayah, kamu pilih dulu. Ayah adalah kepala keluarga dan berkontribusi paling banyak kepada keluarga." Ayah saya tidak menolak dan memilih mangkuk dengan satu telur di atasnya. Saat saya makan semangkuk mie saya, di hati saya berkata pasti tidak ada telur di dalam mangkuk. Yang mengejutkan saya! Ada dua telur di dasar mangkuk. Ayah saya tersenyum kepada saya dengan cinta di matanya, "Anakku, kamu harus ingat! Ketika kamu berpikir untuk kebaikan orang lain, hal-hal baik akan selalu alami terjadi pada dirimu!" Saya selalu ingat 3 kalimat nasehat ayah saya dan hidup dng melakukan sesuai nasihatnya. Dan benar, saya bisa sukses besar. Xi Jin Ping

Sabtu, 09 Desember 2017

Keajaiban itu ada

Sebuah perusahaan memiliki tradisi mengadakan pesta setiap malam pergantian tahun (Old & New), dan mengadakan undian berhadiah. Aturan undian adalah sebagai berikut: Setiap karyawan membayar 10 dolar sebagai dana, sebanyak 300 karyawan, dengan kata lain, dapat mengumpulkan total tiga ribu dolar, sementara bagi yg beruntung, dia akan mendapat semua uang yg dikumpulkan. Hari undian, kantor dipenuhi suasana yang semarak, semua orang menuliskan namanya di kertas,dan memasukkan ke dalam kotak undian. Namun, seorang pemuda ragu untuk menulis namanya. Karena menurutnya, orang yg paling pantas mendapatkan hadiah undian tsb adalah seorang anak dari pembersih perusahaan tersebut yg mengalami bocor jantung baru-baru ini untuk biaya operasi , tapi dia tidak punya uang untuk membayar biaya operasinya , jadi dia sangat kesal. Jadi, meski mengetahui bahwa hanya ada 1/300 kemungkinan nama yg ditulis nya terpilih, pria itu menulis nama ibu pembersih pada kertasnya itu. Waktu yang menegangkan akan datang, kertas2 di kotak undian diaduk, kemudian diambillah salah satu kertas didalam kotak tsb, dan si pria terus berdoa dlm hatinya: 'Saya harap nama ibu tsb yang terpilih' ... ... Kemudian, boss dengan hati-hati mengumumkan nama pemenangnya, dan KEAJAIBAN terjadi!!! Pemenangnya adalah si ibu pembersih! Kantor itu meledak dgn sorak sorai, ibu tersebut dengan cepat datang untuk menerima penghargaan tersebut, sambil menangis: "Saya sangat beruntung! Dengan uang ini, anakku punya harapan! '' Pesta dimulai, pria itu memikirkan "Keajaiban" ini, sambil berjalan ke kotak undian di sampingnya, dan dengan mudah dia menemukan sebuah kertas, dibukanya, tulisan di atas kertas, sebenarnya adalah nama si ibu pembersih kantor. Pria ini sangat terkejut, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas, tulisan tangan di atas meski tidak sama, tapi namanya semuanya sama yang ditulis, satu per satu itu adalah nama ibu pembersih kantor tsb!! '' Mata pria ini memerah, dia menyadari bahwa di dunia ini benar-benar memiliki keajaiban, tapi keajaiban itu tidak akan jatuh dari surga, tapi Tuhan lah yg menciptakan keajaiban melalui manusia...

Senin, 25 September 2017

Memberi

Di depan gerbang suatu jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta. Ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang dan menaruh kaleng di depan dia duduk. Dia berharap orang-orang yang lalu lalang merasa iba mendengar gesekan biolanya dan memberinya sedikit uang. Pada suatu hari seorang pria yang berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja pengemis itu menolak, dan berkata "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Tetapi orang tersebut terus membujuk agar si pengemis mau meminjamkan biolanya, meski hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya pengemis buta itu, dengan segan memberikan biola tuanya. Setelah itu, dia mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu syahdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang, membuat semua yang lewat berhenti dan mereka mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang, membuat semua orang terdiam, terhanyut oleh gesekan biolanya. Si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang. Ternyata tidak cuma satu tapi beberapa lagu dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya iapun harus menyelesaikan permainannya, dan sambil mengucapkan terimakasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis dengan berlinang air mata dan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya "Paganini". SANG MAESTRO BIOLA PAGANINI, TELAH MEMBERI BANTUAN SESUAI DENGAN PROFESINYA. Banyak cara bagi kita untuk menjadi seperti "Paganini" dalam memberi pada orang lain.

Minggu, 24 September 2017

Lembah Lolipop

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati sebuah lembah yang diberi nama Lembah Lolipop karena di lembah itu penuh dengan permen lollipop yang beraneka ragam. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama-sama. Di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak sekali permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa dan rupa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah Lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi banyak orang. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Ia terhenyak dengan pertanyaan tersebut, ia pun menjawab pertanyaan tersebut: “Emm permennya belum dimakan sama sekali. Saya sibuk mengumpulkan permennya sehingga lupa untuk mencicipi permen tersebut.” Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali.. Saya memanggil-manggil kamu, tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali! " Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama! Setelah itu dia menceritakan juga ada beberapa permen-permen langka yang bisa diambil hanya jika kita tau lokasi permen tersebut. Permen langkanya luar biasa loh. Nah lihatlah ini” Bib memperlihatkan permen langka yang bentuk serta rasanya luar biasa. Yang jika diberi nilai maka nilainya 100 x dari permen biasa. Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah tersebut. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya. Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya. Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob dilembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen dan lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia. Banyak orang yang ketika melihat peluang mereka menjadi serakah dan makin serakah. Seluruh hidupnya terfokuskan untuk mengumpulkan kekayaan.