Kamis, 24 Oktober 2013

ORANG YANG PALING DEKAT

Seorang dosen mengadakan permainan kecil kpd mahasiswa yg sdh berkeluarga & meminta 1 org maju ke papan tulis.

Dosen: "Tulis 10 nama yg paling dekat dgn anda".

Lalu mahasiswa menulis 10 nama, ada nama tetangga, org tua, teman kerja, istri, anaknya dst.

Dosen: "silahkan pilih 7 diantaranya yg skiranya anda ingin hidup terus bersama nya", mahasiswa itu mencoret 3 nama.

Dosen: "coret 2 nama lagi", tinggallah 5 nama.

Dosen: "coret lagi 2 nama", tersisalah 3 nama yaitu nama org tua, istri & anaknya.

Suasana kelas hening. Mereka mengira smua sdh slesai & tak ada lagi yg harus dipilih.

Tiba2 Dosen berkata : "silahkan coret 1 nama lagi!", mahasiswa itu perlahan mengambil pilihan yg amat sulit lalu mencoret nama org tuanya secara perlahan.

Dosen: "silahkan coret 1 nama lagi!", hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian mengangkat kapur & lambat laun mencoret nama anaknya & mahasiswa itupun menangis.

Stelah suasana tenang sang Dosen bertanya kpd Mahasiswa itu. "Kau tdk memilih org tua yg membesarkan Anda, tdk juga memilih anakyg darah dagingmu, sdg istri itu bisa dicari lagi. Tp mengapa anda berbalik memilih istrimu?"

Smua org didlm kelas terpana menunggu jawaban dari Mahasiswa itu.

Lalu sang Mahasiswa itu berkata, "Seiring waktu berlalu, org tua saya akan pergi & meninggalkan saya, sdg anak jika sdh dewasalalu menikah, setelah itu pasti meninggalkan saya juga"

"Sdgkan yg bisa menemani saya dlm hidup inihanyalah ISTRI saya"
Org tua & anak bukan saya yg memilih, tapi saya yg memilih sendiri ISTRI saya dari sluruh wanita yg ada. Saya sangat mencintainya di setiap waktuku dlm hidupku. Terima kasih Tuhan"

Sabtu, 05 Oktober 2013

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu Michael sudah menikah 30 tahun lamanya, dan Michael belum pernah melihat mereka bertengkar. Bagi Michael, perkawinan ayah dan ibunya menjadi teladan baginya.  


Setelah menikah, Michael dan istrinya sering bertengkar karena hal-hal kecil.  Ketika suatu saat ia pulang ke rumah orangtuanya, Michael menuturkan keluhannya pada ayahnya.  Ayahnya mendengar dengan baik tanpa berbicara apa-apa.  Setelah Michael selesai bercerita, ayahnya bangkit berdiri dan kemudian datang lagi dengan membawa beberapa tumpuk buku-buku, dan diletakkan di meja di depan Michael. Sebagian buku itu sudah berwana kuning, sepertinya sudah lama disimpan. 

"Bukalah dan bacalah !" kata ayahnya.
Michael mengambil salah satu dari buku itu dengan penuh rasa ingin tahu.  Satu persatu halaman dibukanya.  Ia melihat tulisan ayahnya, agak miring dan aneh, ada yang jelas ada juga yang semrawut, bahkan ada juga tulisan yang ditulis dengan tinta yang tebal sampai-sampai menembus beberapa halaman di belakangnya.

Michael membaca isi buku itu satu persatu.  Semuanya merupakan catatan-catatan ringan dan sepele.  

"Suhu udara berubah menjadi dingin, ia mulai menjawab baju wol untuk anak-anakku."  
"Ia membuatkan masakan kesukaanku yang sudah lama kuinginkan."
Ada banyak tulisan sepele lainnya. Semuanya berisi catatan kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga. 

Dengan berlinang air mata Michael berkata kepada ayahnya, "Kalian berdua selalu penuh cinta.  Saya sangat kagum kepada ayah dan ibu."
"Tidak perlu kagum, kamu juga bisa," kata ayahnya 
Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun, tidaklah mungkin menghindari pertengkaran.  Ibumu kalau kesal, suka cari gara-gara dan sering mengomel melampiaskan kemarahannya.  Aku ikut terbawa kesal, tetapi kemudian aku menuliskan apa yang Ibumu sudah lakukan demi rumah tangga ini. Seringkali hatiku penuh amarah saat menuliskannya, sehingga pen yang aku gunakan menembus kertas hingga sobek. Terkadang aku harus berulangkali merobek kertas dan menuliskan kembali.  Tetapi aku terus berusaha menuliskan semua kebaikannya. Kalau aku belum bisa menemukan kebaikan ibumu yang harus kutuliskan, aku diam merenung hingga akhirnya emosiku lenyap, yang tinggal adalah kesadaran diriku akan kebaikan hati ibumu.  

Michael mendengarkan dengan baik, lalu bertanya," Apakah ibu pernah melihat semua catatan ayah ini ?" 
Ayah tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku tentang kebaikanku.  Seringkali kami saling bertukar buku dan saling mentertawakannya." 

Michael terdiam, dan kemudian sadar akan rahasia pernikahan orangtuanya, "Mencintai itu sangat sederhana, yaitu ingat dan catat semua kebaikan psangan, dan lupakan segala kesalahannya.

10 hari yg lebih berarti dari 10 tahun

Alkisah ada seorg raja yg memiliki 10 anjing ganas utk menghukum yg bersalah.Jika sang Raja tdk berkenan maka org yg salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing² ganas tsb. Suatu hari seorg menteri membuat keputusan salah & murkalah Raja. Maka diperintahkan agar sang menteri dimasukkan ke kandang anjing ganas. Menteri berkata: "Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun, tapi paduka tega menghukumku begini. Atas pengabdianku selama ini saya hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja". Sang Raja pun mengabulkannya. Sang menteri bergegas menuju kandang anjing² tsb & meminta izin kepada penjaga utk mengurus anjing²nya.Ketika ditanya utk apa? Maka dijawab: "Setelah 10 hari nanti engkau akan tahu''. Karena tahu dia itu seorang menteri maka diizinkanlah dia untuk mengurus anjing2 itu.Selama 10 hari itu sang menteri memelihara, mendekati, memberi makan bahkan akhirnya bisa memandikan anjing² tsb hingga menjadi sangat jinak padanya.Tibalah waktu eksekusi, disaksikan Raja dimasukkanlah sang menteri ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat melihat anjing² itu justru jinak padanya.Maka dia bertanya apa yg telah dilakukan menteri pada anjing² tsb. Jawab menteri: "Saya telah mengabdi pada anjing² ini selama 10 hari & mereka tdk melupakan jasaku. Terharulah raja, meleleh airmatanya lalu dibebaskanlah sang menteri dari hukuman & diMAAFkan. 
Hikmah dari cerita di atas adalah:Agar kita tdk mudah melupakan kebaikan2 dari org² terdekat kita, hanya krn kejadian sesaat yg tdk mengenakkan. Jgn mudah menghapus kenangan, persaudaraan dan persahabatan yg telah terukir bertahun tahun lamanya hanya krn hal² kecil yg kurang kita sukai saat ini saja 

Kamis, 15 Agustus 2013

BURUNG MANYAR DAN KERA

Sepasang burung manyar bertetangga dengan seekor kera. Manyar sibuk membangun sarang, kera melongok saja di atas dahan.
Manyar menegurnya,
“Hey kera, kamu kan punya kaki dan tangan untuk bekerja, kenapa kamu tidak membangun rumahmu sendiri?”
Si kera marah-marah dengan teguran itu,
“Leluhur kami adalah bala tentara Sri Rama, ditugaskan menyelesaikan pekerjaan orang lain.  Tidakkah mereka itu orang-orang ahli?” Lalu kera merobek-robek sarang manyar.
Manyar mengadukan hal itu kepada pendeta bijak. Pendeta itu memberi nasihat,
“Jangan  dilengkungkan kayu  yang tidak selayaknya dilengkungkan!
Jangan dijalankan kereta yang tak beroda!
Jangan sekali-kali pendeta bermurid mereka yang tak selayaknya menjadi murid!
Jangan sekali-kali memberi nasihat kepada mereka yang tidak mau menerima nasihat, sebab tutur anda akan sia-sia!”
MAKSUD CERITA:
Manyar menegur kera yang bermalas-malas tidak mau bekerja,
maksudnya agar kera berubah sifat, menjadi rajin bekerja,
Kera tidak berubah sifat, malahan marah.

Maksud cerita ini cukup jelas:
Jangan ingin mengubah orang lain menjadi seperti yang anda inginkan.
Ubahlah diri anda sendiri menjadi lebih mudah menerima sesama seperti apa adanya.

Rabu, 31 Juli 2013

KISAH 4 LILIN

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
kisah inspirasi
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

“Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

================
Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas :
  1. Hidup tak selamanya terang, adakalanyaangin berhembus, meredupkan "lilin-lilin" kita
  2. Dalam situasi dan kondisi sesulit apapun, jangan sampai kau putus harapan... terlebih harapan kepadaNya...
  3. dengan Harapan, kita bisa bertahan dan kita bisa menyalakan "lilin" lain kehidupan kita.

Kamis, 27 Juni 2013

Elang dan Kalkun

Elang dan Kalkun
Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.
Satu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.
Jadi kedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung,namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”.
Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”. Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani.
Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal.” Elang dan Kalkun menjadi syok berat!. Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.
Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup.”
Elang juga goyah dengan pengalaman ini, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa mbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan menarik”.
Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.
Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Namun suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari raya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang.
Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanks giving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yang sedap.
Ketika anda menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan anda…Dan Anda akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi…
Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.

Sabtu, 04 Mei 2013

Dosa Besar Dosa Ringan

Alkisah,
Ada dua orang pendosa mengunjungi seorang pemuka agama yang bijak dan meminta nasehatnya.

"Kami telah melakukan suatu dosa," kata mereka dan suara hati kami terganggu.

"Apa yang harus kami lakukan ?"
"Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, Anakku," kata Pemuka agama tersebut.

Pria pertama mengatakan ,"Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan."

Pria kedua berkata,"Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan."

"Baik," kata Pemuka agama tersebut, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan !".

Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.

"Sekarang," kata pemuka agama tersebut, "Pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat dimana kamu telah menemukannya!".

Pria pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke tempat dimana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada didalam tasnya. Katanya, "Itu pekerjaan yang sulit."

Dosa itu seperti batu-batu itu, kata pemuka agama bijak tersebut, Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya, tetapi dengan penyesalan yang sejati, memohon ampun dan mengakui Nama Tuhan, maka kesalahannya diampuni seluruhnya oleh Tuhan.

Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu itu salah, namun semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesali sedikitpun, maka ia tetap sebagai seorang pendosa. Ia sulit membuang batu-batu itu kembali ke tempatnya dan terus menerus membawanya seumur hidup.

"Maka ketahuilah,anak-anakku," nasihat pemuka agama itu, "Adalah sama untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat !"