Kamis, 05 November 2020

Monyet

🐵. 🙈. 🙉. 🙊. 🐒 Di Afrika, ada sebuah teknik yang unik untuk berburu monyet di hutan Afrika. Si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup2 tanpa harus menggunakan senapan dan obat bius, dan tanpa cidera. Cara menangkapnya sederhana saja, pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma untuk mengundang monyet2 datang. Setelah diisi kacang, toples2 itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet2 yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa ? Monyet2 itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang2 yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, maka monyet2 itu tidak bisa menarik keluar tangannya. *Selama mempertahankan kacang2 itu, selama itu pula mereka terjebak.* Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet2 itu tidak akan dapat pergi kemana2..! Sebenarnya monyet2 itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya, tapi mereka tak mau melepaskannya...  ******* Saudaraku...  Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah monyet2 itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya banyak manusia melakukan hal yang sama seperti monyet2 itu. Mereka mengenggam erat setiap permasalahan yang dimiliki tanpa mau melepaskannya.  Mereka sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Sehingga tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, terkadang membawa "toples2" itu kemana pun mereka pergi. Mereka terus berusaha berjalan menapaki jalan kehidupan ini dengan beban berat itu. Tanpa sadar, mereka sebenamya sudah terperangkap penyakit kepahitan yang akut, yg bisa berakibat pada mengerutnya sel2 tubuh mereka, dan putusnya benang2 DNA-nya. Jika hal ini dibiarkan berlarut, maka kemungkinan besar sel2 yg mengerut tadi perlahan namun pasti, bermutasi menjadi sel2 KANKER...! *" Penelitian ttg sel tubuh yg bermutasi menjadi sel kanker inilah yg mengantarkan Prof. Dr. Bruce Lipton, dari USA, menerima hadiah Nobel dlm bidang Biologi Molecular. "*  Sebenarnya mereka akan selamat dari sakit berbahaya ini jika mereka mau melepaskan semua pikiran, perasaan dan emosi negatif ( su'u dhon, kecemasan, sakit hati, marah, dendam, dll ) terhadap siapapun. ******* A

Sabtu, 03 Oktober 2020

JANGAN PERNAH BERHENTI DI TENGAH BADAI

Seorang anak mengemudikan mobil bersama ayahnya. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi & berhenti. “Bagaimana ini Ayah? Kita berhenti?”, si Anak bertanya. “Teruskan perjalanan saja.. !”, kata Ayah. Anaknya terus menjalankan mobil. Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujan pun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi & berhenti. “Ayah....?!" tanya si Anak “TERUSLAH mengemudi!” kata Ayah sambil TERUS MELIHAT KE DEPAN. Anaknya TETAP MENGEMUDI dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan, JARAK PANDANG HANYA BEBERAPA METER SAJA. Si Anak mulai takut. NAMUN...TETAP MENGEMUDI WALAUPUN SANGAT PERLAHAN. Setelah melewati beberapa kilo ke depan, dirasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, SAMPAILAH mereka pada daerah yang kering & matahari bersinar. “Silahkan berhenti & keluarlah”, kata Ayah “Kenapa sekarang Ayah?”, tanya si anak. “Agar kau BISA MELIHAT seandainya berhenti di tengah badai”. Sang Anak berhenti & keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Dia membayangkan orang-orang yang terjebak di sana. Dia BARU mengerti bahwa JANGAN PERNAH BERHENTI DI TENGAH BADAI karena akan terjebak dalam ketidakpastian. JIKA kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, TERUSLAH BERJALAN, jangan berhenti & putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus menakutkan. LAKUKAN saja apa yang dapat kita lakukan & yakinkan diri bahwa BADAI PASTI BERLALU. Karena kita yakin bahwa di depan sana ada Kepastian dan Kesuksesan untuk kita. "FOKUS KEPADA TUJUAN, BUKAN KEPADA RASA TAKUTMU." - Anthony Robbins

Jumat, 11 Oktober 2019

Mulut membawa orang

Ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari ia menempuh perjalanan melewati hutan belantara. Ketika sampai di tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara. Pengembara itu merasa takut tetapi juga penasaran. Dengan hati-hati ia mencari asal suara tadi. Ternyata suara tadi berasal dari tengkorak manusia yang ada di bawah pohon besar. Ia pun memberanikan diri mendekat dan bertanya, "Hai tengkorak. Bagaimana kamu bisa sampai di hutan belantara ini?" Tengkorak itu pun menjawab, "Hai pengembara, yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara." Pengembara pun kemudian mengajak tengkorak itu untuk berbicara. Saat keluar dari hutan, dengan penuh semangat, ia bercerita tentang tengkorak yang bisa berbicara kepada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja tidak ada orang yang memercayainya. Namun pengembara itu terus saja bercerita. Sampai akhirnya cerita tengkorak yang bisa bicara itu terdengar sampai di istana raja. Raja pun mengajak si pengembara itu untuk membuktikan ceritanya dengan bersama-sama pergi ke hutan menemui tengkorak tersebut. Setibanya di hutan, sang pengembara mengajak tengkorak itu berbicara. Akan tetapi tengkorak itu hanya terdiam saja. Merasa telah dibohongi, sang raja menjadi marah dan memerintahkan agar si pengembara di hukum mati dengan cara dipenggal kepalanya. Lalu jenazah pengembara ditinggalkan di hutan dan kepalanya diletakkan di samping tengkorak tadi. Begitu raja dan pengawalnya pergi, tiba-tiba si tengkorak bersuara, "Hai pengembara, bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?" Kepala si pengembara pun menjawab, "Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara." Seringkali pertengkaran, kesalahpahaman, dan permusuhan besar muncul gara-gara omongan yang tidak pada tempatnya. Mereka yang suka banyak bicara, seringkali kurang waspada sehingga perkataannya mudah menyinggung, merendahkan atau melecehkan orang lain. Alangkah baiknya apabila kita setiap saat bisa mengendalikan diri dan tahu kapan saatnya harus berbicara. Terkadang diam adalah sikap yang paling bijak.

Minggu, 28 Juli 2019

BURUNG BERSAYAP SEBELAH

Seorang teman dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat. Tadinya, saya pikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan. Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini. Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya. Dan ia pun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini. Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalau motif kita mencari pasangan - entah pasangan hidup maupun pasangan kerja - adalah mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja. Bercermin dari semua inilah, maka fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan. Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan upaya yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal, meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat bersama orang lain. Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaan menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk 'berpelukan' dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya. Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta. Ia tidak saja mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar. Demikian besarnya makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia. Ini semua, mendidik kita untuk hidup dengan pelukan cinta. Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, kita sebaiknya senantiasa berterima-kasih akan pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa kita peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkan di pinggir kali, juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang. Namun, begitu kita ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana. Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih di sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang. Sepintar dan sehebat apa pun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apa pun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah. Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang rekan untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan 'memeluk' orang lain. BURUNG BERSAYAP SEBELAH

Sabtu, 02 Februari 2019

Rayap Kayu Kapal

Dikisahkan dua orang laki-laki bekerja keras membuat sebuah perahu. Ketika sedang sibuk bekerja mereka berdua menemukan rayap disebuah papan. Salah seorang dari mereka kemudian ingin membuang papan itu tapi temannya melarang. Dia berkata, ”kenapa papan ini dibuang? Kan sayang. Lagipula tidak ada masalah. Cuma kena rayap sedikit saja.” Harga papan ini lumayan mahal loh.... Karena tidak ingin mengecewakan temannya, papan yang ada rayapnya pun digunakan untuk membuat perahu. Selang beberapa hari, perahu pun selesai dan sudah bisa digunakan untuk melayari lautan. Tapi beberapa bulan kemudian, rayap-rayap itu ternyata bertelur dan menetas. Rayap-rayap itu kemudian menggerogoti kayu kapal. Bahkan rayap-rayap itu menyebar kemana-mana hingga memakan kayu yang ada di lambung kapal. Kapal terus digunakan dan tak seorang pun sadar hingga akhirnya, kayu-kayu perahu itu pun mulai keropos. Dan, ketika dihantam oleh ombak besar, air berhasil menembus masuk dari celah-celah dan lubang-lubang kayu. Karena hujan juga sering turun dengan deras, para awak perahu tidak mampu lagi menguras air yang masuk ke dalam perahu sehingga akhirnya perahu itu karam. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga dan nyawa manusia. .... Sahabatku, Kalau saja kita sadar bahwa malapetaka besar ini sebenarnya berasal dari hal yang remeh dan tidak berharga seperti papan yang sudah kena rayap. Kalau saja ketika membuat perahu dahulu papan itu dibuang, tentu saja malapetaka ini bisa dicegah. Dan, begitulah kalau pada kenyataannya kita sering tidak sadar kalau perbuatan-perbuatan kesalahan kecil dan remeh yang kita lakukan kadang-kadang justru malah menimbulkan malapetaka besar. orang bijak pernah berkata :"Berhati-hatilah dan berhematlah atas pengeluaran-pengeluaran kecil. kebocoran kecil bisa membuat kapal tenggelam."

Sabtu, 26 Januari 2019

Balap Empat Babak Kelinci melawan Kura-kura

Suatu pagi, di sebuah hutan, kelinci dan kura-kura bertemu dekat sebuah sungai. Mereka berjemur dan mengobrol. Kelinci mulai membangga-banggakan dirinya sendiri. “Kura-kura, kau tahu? Aku adalah pelari tercepat di dunia,” kata kelinci sombong. “Eh, sembarangan. Ayo kita buktikan. Kita balap 4 babak balap lari. Bagaimana? Kau berani?” tantang kura-kura. Kelinci semakin tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha, baiklah jika itu maumu. Akan kubuktikan bahwa aku pelari tercepat di dunia. Bukan kau.” “Oke! Aku juga akan buktikan,” kata kura-kura mantap. Sebenarnya kura-kura tahu ia tidak akan menang adu lari melawan kelinci. Tapi, ia ingin memberi pelajaran kepada kelinci yang sombong. 1. Babak pertama Kelinci berlari sangat cepat, dan kura-kura tertinggal jauh di belakang. Melihat kura-kura yang tertatih berjalan lambat, membuat kelinci terlena. Kelinci memutuskan untuk beristirahat sebelum garis akhir, dan jatuh tertidur. Dan kura-kura bisa melewati kelinci mendahului ke garis akhir. Kura-kura memenangi babak pertama. 2. Babak kedua Mengingat kekalahan pada babak pertama, kelinci berlari tanpa henti meninggalkan kura-kura jauh di belakang, dan mencapai garis akhir. Kelinci memenangi babak kedua. 3. Babak ketiga Kali ketiga, kura-kura mengatakan kalau di babak ini dia yang menentukan rute lari. Kelinci dengan sombong menyanggupi. Setelah berlari cepat, kelinci terhenti di pinggir sungai. Rupanya dalam jalur ini kelinci harus menyeberangi sungai. Dan kelinci tidak dapat berenang termangu di pinggir sungai. Hingga terlewati oleh kura-kura yang bisa berenang. Kura-kura memenangi babak ketiga. 4. Babak keempat Untuk babak keempat. Kura-kura mengajak kerja sama. Di jalur darat, kelinci menggendong kura-kura. Di sungai, kura-kura berenang menggendong kelinci. Akhirnya kelinci dan kura-kura dapat menyelesaikan lomba bersama-sama. Menang bersama-sama... Silakan nilai sendiri nilai dari tiap babak...

Selasa, 08 Januari 2019

Orang buta dan Lentera

Suatu ketika, seorang buta hendak pulang dari rumah sahabatnya. Ketika ia akan pulang, hari sudah malam. Sahabatnya tersebut kemudian membekali orang buta ini dengan sebuah lentera. Orang buta itu tertawa dan bertanya, “Buat apa saya membawa lentera? Dengan atau tanpanya, saya memang tak bisa melihat! Sudah, tak perlulah saya membawa lentera itu!.” Sang sahabat itu kemudian dengan lembut menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihatmu dan tidak menabrakmu saat berjalan.” Setelah perdebatan singkat, orang buta itu setuju untuk membawa lentera. Baru berjalan selama lima menit, ada orang yang menabraknya. Orang buta yang kaget ini berkata dengan tidak senang, “ Hei! Kamu kan punya mata! Berilah jalan untuk orang buta!” Tanpa menjawab, orang itu berlalu. Baru berjalan lagi selama 10 menit, ada orang lain yang menabraknya. Orang buta ini makin marah dan berkata, “Kamu buta ya? Tidak bisa lihat? Aku sudah bawa lentera mengapa masih kau tabrak?” Orang itu kemudian menjawab dengan sama marahnya, “Kamu itu yang buta! Apa kamu tidak tahu bahwa lenteramu sudah padam?” Si buta itu terdiam sejenak lalu setelah sang penabrak sadar denga situasinya, ia langsung berkata, “Astaga, maaf sekali. Sayalah yang buta karena tidak menyadari bahwa Anda tak bisa melihat. Mari saya bantu untuk menyalakan lagi lentera Anda.” Orang buta ini kemudian juga meminta maaf karena sudah berkata kasar dan tidak sadar bahwa lenteranya telah mati. Mereka kemudian berpamitan dengan sopan lalu melanjutkan perjalanan masing-masing. Setelah berjalan kurang lebih lima menit, orang buta ini ditabrak lagi oleh orang lain. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama, orang buta ini bertanya dengan sopan, “Maaf, apakah lentera saya padam sehingga Anda tak bisa melihat saya?” Lucunya, penabrak itu justru berkata, “Wah, justru saya juga hendak menanyakan hal itu!” Dua orang ini kemudian terdiam sesaat lalu si buta bertanya, “Apakah Anda buta?” Penabrak itu berkata, “Ya!” Setelah itu mereka berdua pun tertawa bersama menertawakan kebutaan mereka. Dua orang ini kemudian saling bantu menemukan lentera yang jatuh gegara tabrakan tadi. Saat sedang mencari-cari dalam gelap, ada orang yang lewat dan tidak membawa lentera. Hampir saja ia menabrak dua orang buta itu. Untung ia tidak menabraknya. Ia langsung berlalu karena tak tahu bahwa keduanya buta. Orang ini hanya berpikir, “Saya tentu butuh membawa lentera supaya tidak menabrak orang lain. Jika ada yang membutuhkan cahaya, saya juga bisa meminjamkan padanya.” Apa makna dari cerita ini? Lentera di sini menggambarkan kebijaksanaan. Membawa lentera berarti memiliki dan mengamalkan kebijaksanaan dalam hidup. Sama halnya dengan lentera, kebijaksanaan dapat melindungi kita dari berbagai macam rintangan dan ‘tabrakan’ yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup. ____________________________________ Lalu apa makna perjalanan si orang buta tadi? Awalnya, si buta mewakili orang yang benar-benar gelap batinnya. Ia angkuh, bebal, egois, dan penuh kemarahan. Jika ada kesalahan, ia selalu menunjuk orang lain. Ia tak sadar bahwa kesalahan sebenarnya juga banyak pada diri sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai belajar bahwa apa yang awalnya ia yakini tidaklah benar. Si buta ini menjadi lebih bijak setelah mengalami sejumlah peristiwa. Ia lebih rendah hati dan merasa bahwa dalam dirinya juga ada banyak kesalahan. Ia menjadi rendah hati karena sadar akan kebutaannya dan sadar akan kebutuhannya akan bantuan orang lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Penabrak pertama mewakili orang pada umumnya. Mereka tak sadar dan tak peduli dengan apapun yang terjadi. Penabrak kedua mewakili orang yang bertentangan dengan kita. Mereka sebenarnya bisa menunjukkan kesalahan kita dan bisa menjadi guru-guru terbaik untuk kita. Beranikah kita dibenahi oleh orang lain? Orang buta kedua mewakili mereka yang sama gelap batinnya dengan kita. Jangan sampai kita meminta pertolongan dari orang yang sama-sama buta dan tak punya lentera. Lalu orang terakhir menggambarkan mereka yang masih buta namun sadar akan pentingnya lentera kebijaksanaan. Siapakah diri kita dalam kisah ini? Sudahkah kita memiliki atau mencari lentera kebijaksanaan dalam hidup?

Senin, 10 Desember 2018

TEMAN SEJATI

Ada sebuah pohon yg sedang berbuah lebat, buahnya terlihat kuning keemasan dan sangat menggiurkan. Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut, dengan suara tinggi berteriak memuji pohon tersebut. "Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buahmu ini." Pohon yang mendengar pujian tersebut berkata kepada burung jalak, "Teman, tinggallah di atas saya!" Kemudian, seekor burung kenari terbang dan hinggap di atas dahan pohon tersebut, sambil bernyanyi, "Pohon ini sangat hijau, buahnya sangat harum dan kelihatan enak." Pohon berkata kepada burung kenari ini, "Jika engkau ingin memakan buah in, ambil saja!" Tiba-tiba seekor burung belatuk terbang ke pohon tersebut. Ia mematuk-matuk di sana-sini di badan pohon itu, patukannya membuatkan pohon sangat sakit, sambil menjerit kesakitan berteriak kepada burung belatuk. Burung belatuk berkata, "Aku melihat di dalam tubuh kamu ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar, jika tidak kamu akan sakit dimakan ulat." Si pohon dengan marah berkata, "Jangan bercakap kosong, engkau mematuk aku kerana sengaja ingin membunuh aku, cepat pergi dari sini!" Burung belatuk akhirnya terbang pergi. Tidak berapa lama kemudian, pohon itu menderita sakit, daunnya berubah kuning kemudian gugur. Dahannya juga layu, tidak berbuah lagi. Burung jalak terbang meninggalkannya, burung kenari juga tidak datang bernyanyi lagi. Pada saat itu burung belatuk datang lagi, walau bagaimanapun pohon menjerit kesakitan, ia tidak peduli, burung belatuk terus mematuk hingga seluruh ulat di pohon terpatuk habis. Beberapa hari kemudian, pohon itu tumbuh kembali, daun-daun hijau mula kelihatan, kemudian ia berbuah lagi. Pohon itu dengan perasaan terharu berkata, "Yang bernyanyi dan memuji kita belum tentu teman baik, tetapi yang bersedia menunjukkan kekurangan kita dan membantu kita, itulah teman sejati."

Rabu, 14 November 2018

Lebih kaya dari Bill Gates

Seseorang bertanya pada Bill Gates, "Adakah orang yang lebih kaya dari dirimu?" • Bill Gates menjawab hanya satu orang. Bill Gates mulai cerita: Bertahun-tahun yang lalu, ketika aku belum sekaya ini, aku pergi ke bandara New York. Aku membaca surat kabar yang digelar di sana. Aku tertarik pada salah satu surat kabar tersebut, aku ingin membelinya ternyata uangku tidak cukup. Tiba-tiba seorang pria kulit hitam memanggil saya dan mengatakan, "Koran ini untuk Anda" Aku berkata, "Tapi uangku tidak cukup" Dia berkata "Tidak masalah, aku memberikan anda gratis" • Setelah 3 bulan, aku pergi lagi ke bandara New York. Secara kebetulan cerita itu terjadi lagi, anak yang sama memberiku koran gratis. Aku bilang aku tidak bisa menerimanya lalu ia berkata, "Aku akan memberimu keuntungan dari apa yang telah aku lakukan" Setelah lewat 19 thn, aku sudah kaya dan aku memutuskan untuk menemui anak itu. Aku menemukannya setelah satu setengah bulan mencarinya. Aku bertanya padanya, "Kau kenal aku?" Dia bilang, "Ya, kau terkenal. Namamu Bill Gates" Aku bilang, "Beberapa tahun yang lalu kau memberiku surat kabar gratis 2 kali, sekarang aku ingin mengimbangimu. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan" Pemuda kulit hitam itu menjawab, "Anda tidak dapat mengimbangiku" Aku tanya kenapa? Dia berkata : *"Karena aku memberimu ketika aku miskin sedangkan Anda ingin memberi saya ketika Anda kaya. Jadi bagaimana Anda bisa mengimbangiku?* Bill Gates bilang: Kurasa pria kulit hitam itu lebih kaya dari aku. Pelajaran berharga yang kuambil darinya adalah kita tidak harus menunggu kaya untuk memberi sesuatu. Memberi dari kelebihan itu biasa, tetapi memberi dari kekurangan kita itu tidak biasa dan sangat luar biasa dan tidak banyak orang yg melakukannya. Jangan menunda untuk memberi, Jangan terlalu banyak berpikir/hitung2an untuk memberi, Jangan memandang Suku, Agama, Ras dan status sosial dalam memberi.💙 Berilah, maka kamu akan diberi Lebih banyak berkat memberi daripada menerima!

Jumat, 05 Oktober 2018

Bulu Kemoceng

Seorang murid meminta maaf kepada gurunyayang telah difitnahnya. Sang guru hanya terseyum. “Apa kau serius?” tanya sang guru. “Saya serius, Guru, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.” Sang Guru terdiam sejenak. Lalu ia bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng di kamarmu?” “Ya, saya punya sebuah kemoceng Guru. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?” “Besok pagi, berjalanlah dari kamarmu ke pondokku. Berkelilinglah lapangan sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui. Kamu akan belajar sesuatu darinya.” Keesokan harinya, sang murid menemui Guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun pada gagangnya. Ia segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada Sang Guru. “Ini, Guru, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo dari kamar saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Guru. Maafkan saya, Guru.” Sang Guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah. Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju pondokku. Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.” Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan perguruan ini.Atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui. Sang murid terus berjalan. Setelah berjam-jam, ia berdiri di depan kamarnya dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya ada lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan. Hari berikutnya sang murid menemui Sang Guru dengan wajah yang murung. "Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang Guru. "Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang Guru. “Apa yang telah aku pelajari, Guru?” “Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Sang Guru. “Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kamu duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kamu hitung! “Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri. Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. “Tetapi kamu tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya." “Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. “Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

PELACUR DAN ROHANIWAN

Seorang rohaniwan yang sudah terkenal super sibuk dengan pengikut melebihi angka satu juta mendapat laporan dari salah seorang muridnya. "Guru, persis di depan rumah Guru, rumah kosong itu sekarang dikontrak seorang wanita yang tidak bersuami. Ia janda dan setiap sore ia menerima tamu. Ada yang datang berkendaraan Audi, ada yang menggunakan Mercedes, ada yang memakai BMW. Wanita itu pasti seorang pelacur, seorang tunasusila. Guru kenapa tidak mengundang, menasehati, supaya sadar. Bukankah perzinahan itu diharamkan oleh agama?" Sang Guru menganggap laporan itu sebagai suatu tantangan. Ia harus menyadarkan pelacur itu. Ia tidak mempersoalkan kekonyolan muridnya yang selama ini lebih memperhatikan para pengunjung pelacur daripada pelajarannya. Si pelacur dipanggil. Sambil mengucapkan salam, ia memasuki ruangan Guru. "Maafkan saya, Guru, saya seorang yang berdosa. Itu sebabnya sebelum ini saya tidak pernah datang ke tempat Guru." "Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu. Rupanya kau sadar pula bahwasanya apa yang kau lakukan itu dosa. Lantas kenapa kau melakukannya?" tanya sang Guru. "Maafkan saya sekali lagi, Guru. Saya orang desa, tidak berpendidikan tinggi. Datang ke kota ini karena janji akan diberi pekerjaan. Adik-adikku di kampung dalam keadaan susah. Ayah telah menceraikan ibuku yang sekarang ini sedang sakit-sakitan. Jadi, terpaksa saya ke kota. Ternyata saya ditipu oleh mafia di kota ini, dan saya terdampar dalam dunia gelap," wanita tadi menjelaskan latar belakangnya dan menangis. "Sudahlah, nah sekarang carilah pekerjaan yang baik. Tinggalkan pekerjaanmu yang jelek itu." - demikian nasehat sang Guru. "Baik Guru, terima kasih atas nasehatnya," sambil mengucapkan salam, wanita yang dianggap "tunasusila" itu pamit pulang. Beberapa hari berikutnya, cuaca cukup cerah. Namun tidak berlangsung lama, pada suatu sore sang murid mengeluh lagi. "Guru, wanita itu belum sadar-sadar juga. Ia masih menerima tamu." Sang Guru dengan berang berkata, "Panggil dia kemari. Biar Guru menasehatinya lagi." Kali ini wanita tunasusila itu datang dengan mata merah, bengkak, sepertinya baru menangis. Rupanya sebelum disuruh menghadap sang Guru, si murid tadi sudah menegurnya. "Belum sadar juga kau rupanya?" Sang Guru sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Kamu sudah dikuasai setan." "Guru, apa yang harus saya lakukan? Selama seminggu saya tidak menerima tamu. Saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di situ saya diperkosa oleh majikan saya. Padahal dia juga seorang rohaniwan, Guru juga pasti kenal dia. Saya pikir kalau memang demikian, lebih baik sekalian saja saya menjual diri, sudah ketahuan akan dibayar cukup, masih bisa mengirim uang ke kampung," kata wanita itu menangisi nasibnya. "Salah kamu juga. Kau pasti pakai pakaian yang tidak sopan, merangsang majikanmu. Padahal majikanmu itu kan teman baik saya. Kalau kamu pakai pakaian yang begitu merangsang, siapa saja akan tergoda. Itulah kesalahan kamu," sang Guru malah membela majikan sang wanita. Wanita tunasusila itu baru sadar, betapa tunasusilanya masyarakat. "Aneh, kalau para pria merasa terangsang, apa tidak sebaiknya mereka yang harus menggunakan tutup mata? Apa salahnya wanita? Dan kalau seorang rohaniwan saja masih tidak dapat mengendalikan dirinya, lantas apa gunanya dia menjalani kehidupan suci?" "Kau betul-betul sudah dipengaruhi oleh setan. Yang berbicara itu setan. Wanita memang sudah dikodratkan untuk tunduk dan patuh pada kaum pria. Tidak ada harapan lagi bagi kamu, pergilah dari sini," kata sang Guru dengan sangat marah. Sekarang bukan hanya sang murid saja yang memperhatikan pintu rumah wanita tunasusila itu, sang Guru pun mulai memperhatikan siapa saja yang mengunjunginya, jam berapa saja. Setiap kali ada yang mengunjungi rumah itu, sang Guru mengambil satu batu kerikil dan meletakkan di atas meja sudut. Dalam satu bulan saja tumpukannya sudah cukup lumayan, mungkin 90-an batu. Melihat tumpukan itu, menghitung dosa-dosa wanita tunasusila itu, sang Guru sudah tidak dapat menahan diri lagi. Sekali lagi, ia mengirimkan utusan untuk memanggilnya. "Lihatlah tumpukan batu kerikil itu, semua itu dosa-dosamu." Si pelacur tetap membisu, air mata mengalir terus, membasahi pipinya. Tanpa pamit, ia langsung pulang. Beberapa hari kemudian, sang Guru yang memang sudah tua itu meninggal dunia. Ia didatangi oleh malaikat berseragam hitam. Roh sang Guru berang. "Eh, kalian salah, yang menjemput saya seharusnya Utusan dari Surga. Mereka berseragam putih. Demikianlah yang saya baca dalam buku-buku suci selama ini." "Memang kami dari Neraka, tetapi tidak salah. Dalam surat perintah yang diberikan kepada kami, memang nama Anda yang tercantum." Utusan Neraka menunjukkan surat perintahnya. Roh Guru memeriksa keabsahan surat itu, capnya juga sudah benar. Persis demikian menurut kitab-kitab yang dia pelajari selama ini. Tetapi kenapa harus Utusan Neraka yang menjemput dia? Ia menoleh ke bawah, jasadnya dikerumuni oleh massa, sesaat lagi ia akan dikuburkan. Para murid mengelilingi jasadnya sambil membacakan doa-doa. "Lihatlah, lihatlah mereka begitu menghormati jasadku. Kau salah. Seharusnya aku dijemput oleh Utusan Surga yang berseragam putih." Utusan Neraka melihat ke bawah. Benar juga, memang jasad sang Guru dihormati. Ia pun berpikir kembali, mungkin dia salah. Mungkin terjadi kesalahan teknis. Sambil mengeluarkan telepon genggamnya, Utusan Neraka memohon kesabaran kliennya itu. "Ternyata tidak salah, memang kau yang harus ke Neraka," - setelah bicara dengan Manajer Perusahaan Tak Terbatas tadi, Utusan Neraka menjelaskan kepada roh sang Guru. "Wah ini kolusi, korupsi, di Neraka dan Surga rupanya ada sistem nepotisme, harus ada reformasi. Tunggu dulu, kalau saya ke sana, saya akan melakukan reformasi besar-besaran. Dan kau, Utusan Neraka, kau sudah bisa menghitung hari-harimu. Sebentar lagi akan kena PHK. Saya akan melaporkan hal ini kepada Tuhan," roh sang Guru sudah tidak dapat menahan diri lagi. Sebenarnya Utusan Neraka pun sudah bingung. Di mana kesalahannya? Sementara roh sang Guru masih mencaci-maki dia. Tiba-tiba, eh itu apa lagi, lihat di sana itu, ada Utusan Surga berseragam putih: "Sedang ke mana dia?" roh sang Guru bertanya. "Panggil dia, dia pasti sedang menjemput saya. Coba lihat surat perintahnya." Utusan Neraka menggunakan HP-nya, untuk menghubungi Utusan Surga. "Kawan, kau mau ke mana? "Ah, kawan, aku sedang menjemput seorang wanita nih." jawab Utusan Surga. "Wanita yang mana?" tanya Utusan Neraka. "Wanita tunasusila katanya." Utusan Surga menjelaskan. "Tidak salah kau, sahabatku? Rupanya surat perintah kita tertukar. Saya justru disuruh menjemput Guru. Dia lagi marah-marah. Tinggalnya di mana wanita itu?" tanya Utusan Neraka yang merasa penasaran. "Wah harus di cek ulang nih, rupanya wanita itu tinggal persis di depan rumah Guru yang kau jemput itu?" Utusan Surga tak kalah terkejut. "Kalau begitu, ya kau jemput saja wanita itu, dan kita bertemu di Lobby Wisma Surga-Neraka. Saya juga ke sana dengan roh Guru yang saya jemput." Utusan Neraka memberi solusi. "Lihat itu, betul kan, kalian sudah tidak becus mengurus semuanya ini. Sudah terlalu lama tidak terjadi pembaharuan. Harus dilakukan reformasi. Tunggu saja kalian, nanti kalau murid-murid saya mati, saya akan ajak roh-roh mereka berdemonstrasi. Kalian harus mengundurkan diri. Salah melulu-salah melulu. Seorang Guru dibawa ke Neraka, seorang pelacur dibawa ke Surga." Roh Guru mendapat angin segar, harapan baru. Tiba di Lobby Wisma Surga-Neraka, roh Guru menghindari kontak mata dengan roh sang Pelacur yang menyalaminya. "Guru, tadi aku mendengar pembicaraan Utusan Surga yang menjemput aku, dengan Utusan Neraka yang menjemput Guru. Aku sudah tahu, pasti terjadi kesalahan. Maafkan aku. Setelah mati pun aku masih menyusahkan Guru." "Sudah-sudah, cukup, tidak usah bertele-tele. Bukankah dari dulu sudah aku katakan, kau sudah kena hasutan setan, memang nerekalah tempat yang paling tepat bagi kamu." Roh Guru memang sudah kesal. Sementara para penjemput mereka sibuk memeriksa data-data komputer di ruang atas, mereka dipersilahkan menunggu di Lobby. Sang Guru, karena statusnya masih "klien neraka", disuguhi air putih. Sang Pelacur, yang statusnya"klien surga", disuguhi orange-juice. Sang Pelacur merasa malu, ia menawarkan juice itu kepada sang Guru. "Sudah-sudah, kau saja yang minum. Sebentar lagi juga kau menjadi penghuni Neraka, di sana minum air putih terus, sampai kembung perutmu. Sekarang minum saja juice itu, kau tidak akan mendapatkan juice lagi, sampai hari kiamat," sang Guru tidak dapat menutupi rasa kecewanya. Aneh sekali, tetapi ternyata tidak ada kesalahan data. Memang roh sang Guru harus masuk Neraka dan roh Pelacur harus masuk Surga. Print-out komputer menjelaskan: "Sepanjang hidupnya, Guru yang dimaksudkan, selalu menghitung dosa-dosa orang lain. Ia selalu memikirkan kesalahan orang lain. Pikiran dia kacau. Penuh dengan kebencian, tidak pernah tenang, sehingga roh dia harus menjalani proses pembersihan di Neraka. Sementara itu, karena mulut dia merupakan bagian dari fisiknya, dari badan kasatnya, banyak juga membicarakan tentang hal-hal yang baik, maka badan kasatnya dihormati orang banyak, dan jasadnya dikuburkan dengan upacara penuh khidmat. Tetapi rohnya harus ke Neraka. Sebaliknya, sang Pelacur memang melacurkan badannya. Itu sebabnya tidak ada yang mengurusi jasadnya. Mungkin mayatnya akan menjadi makanan anjing-anjing jalanan. Tetapi, pikiran dia selalu bersih. Ia selalu menyesali perbuatannya sehingga rohnya layak menghuni Surga."

Jumat, 27 Juli 2018

Batu kecil

Seorang mandor bangunan yg berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja di bawah. Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan. Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja. Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tersebut dan melanjutkan pekerjaannya. Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja. Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor. Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, Tuhan selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-NYA. Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang. Bahkan kita selalu bilang, "Saya lagi beruntung." Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki yang berasal dari Tuhan. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah agar kita mau menoleh kepada-NYA. Sungguh Tuhan sangat mencintai kita. Marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-NYA sebelum mendapat lemparan batu kecil.

Fokus

Ada seorang anak yang setiap hari rajin sholat ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya, "Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi" "Lho kenapa?" sahut sang ayah. "Karena di masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain". Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu". "Apa itu?" "Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah". Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?", "Sudah". "Apakah ada yang tumpah?" "Tidak". "Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?". "Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak. "Apakah di masjid tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?", tanya sang ayah lagi. "Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas". Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, "Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu". Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif.

Minggu, 15 Juli 2018

Saat Hening

Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini cuman dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. ‘Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?’ Tanya si tukang kayu. ‘Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘to-tak, tok-tak’. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada.’ Anak itu menjawab. Renungan : Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kegaduhan’. Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik . Maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.

Selasa, 03 April 2018

Kebaikan membawa kebaikan

Presiden Xi Jin Ping dari Tiongkok berkata: Ketika saya masih kecil, saya sangat egois, selalu mengambil yang terbaik untuk diri saya sendiri. Perlahan-lahan, semua orang meninggalkan saya dan saya tidak punya teman. Saya tidak berpikir itu salah saya tetapi saya mengkritik dan menyalahkan orang lain. Ayah saya memberi saya 3 kalimat untuk membantu saya dalam hidup. Suatu hari, ayah saya memasak 2 mangkuk mie dan meletakkan 2 mangkuk di atas meja. Satu mangkuk hadir dengan satu telur di bagian atas mie dan mangkuk lainnya tidak memiliki telur di atasnya. Ayah berkata, "Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan ”. Telur sulit didapat saat itu! Hanya bisa makan telur selama festival atau Tahun Baru. Tentu saja saya memilih mangkuk dengan telur! Saat kami mulai makan. Saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri atas pilihan dan keputusan bijak yang saya lakukan dan mendapatkan telur itu. Lalu saya terkejut ketika ayahku makan mie, ada dua telur di bawah mangkuknya, tersembunyi di bagian bawah mie! Saya sangat menyesal! Dan memarahi diriku sendiri karena terlalu terburu-buru dalam keputusanku. Ayah saya tersenyum dan iba kepada saya, ”Anakku. Kamu harus ingat apa yang dilihat mata Anda mungkin tidak benar. Jika kamu berniat mengambil keuntungan dari orang-orang, kamu akan berakhir dengan kekalahan!” Keesokan harinya, ayah saya kembali memasak 2 mangkuk mie: satu mangkuk dengan telur di atasnya dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. Sekali lagi, dia meletakkan dua mangkuk di atas meja dan berkata kepada saya, ”Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan? ”Kali ini saya lebih pintar. Saya memilih mangkuk tanpa telur di atasnya. Yang mengejutkan saya, saat saya memisahkan mie di atas, tidak ada satu pun telur di dasar mangkuk! Sekali lagi ayah saya tersenyum dan berkata kepada saya, “Anakku, kamu tidak harus selalu bergantung pada pengalaman karena kadang-kadang, hidup dapat mengecohmu atau menipu kamu. Tetapi kamu tidak boleh terlalu jengkel atau sedih, hanya memperlakukan ini sebagai pengetahuan yang kamu dapat sebagai proses pembelajaranmu. Kamu tidak akan mendapatkan pelajaran semacam ini dari buku teks. Hari ketiga, ayah saya lagi memasak 2 mangkuk mie, lagi satu mangkuk dengan telur di atas dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. Dia meletakkan 2 mangkuk di atas meja dan kembali berkata kepada saya, ”Anakku. Silahkan kamu pilih. Mangkuk mana yang kamu inginkan?”. Kali ini, aku memberi tahu ayahku, "Ayah, kamu pilih dulu. Ayah adalah kepala keluarga dan berkontribusi paling banyak kepada keluarga." Ayah saya tidak menolak dan memilih mangkuk dengan satu telur di atasnya. Saat saya makan semangkuk mie saya, di hati saya berkata pasti tidak ada telur di dalam mangkuk. Yang mengejutkan saya! Ada dua telur di dasar mangkuk. Ayah saya tersenyum kepada saya dengan cinta di matanya, "Anakku, kamu harus ingat! Ketika kamu berpikir untuk kebaikan orang lain, hal-hal baik akan selalu alami terjadi pada dirimu!" Saya selalu ingat 3 kalimat nasehat ayah saya dan hidup dng melakukan sesuai nasihatnya. Dan benar, saya bisa sukses besar. Xi Jin Ping

Sabtu, 09 Desember 2017

Keajaiban itu ada

Sebuah perusahaan memiliki tradisi mengadakan pesta setiap malam pergantian tahun (Old & New), dan mengadakan undian berhadiah. Aturan undian adalah sebagai berikut: Setiap karyawan membayar 10 dolar sebagai dana, sebanyak 300 karyawan, dengan kata lain, dapat mengumpulkan total tiga ribu dolar, sementara bagi yg beruntung, dia akan mendapat semua uang yg dikumpulkan. Hari undian, kantor dipenuhi suasana yang semarak, semua orang menuliskan namanya di kertas,dan memasukkan ke dalam kotak undian. Namun, seorang pemuda ragu untuk menulis namanya. Karena menurutnya, orang yg paling pantas mendapatkan hadiah undian tsb adalah seorang anak dari pembersih perusahaan tersebut yg mengalami bocor jantung baru-baru ini untuk biaya operasi , tapi dia tidak punya uang untuk membayar biaya operasinya , jadi dia sangat kesal. Jadi, meski mengetahui bahwa hanya ada 1/300 kemungkinan nama yg ditulis nya terpilih, pria itu menulis nama ibu pembersih pada kertasnya itu. Waktu yang menegangkan akan datang, kertas2 di kotak undian diaduk, kemudian diambillah salah satu kertas didalam kotak tsb, dan si pria terus berdoa dlm hatinya: 'Saya harap nama ibu tsb yang terpilih' ... ... Kemudian, boss dengan hati-hati mengumumkan nama pemenangnya, dan KEAJAIBAN terjadi!!! Pemenangnya adalah si ibu pembersih! Kantor itu meledak dgn sorak sorai, ibu tersebut dengan cepat datang untuk menerima penghargaan tersebut, sambil menangis: "Saya sangat beruntung! Dengan uang ini, anakku punya harapan! '' Pesta dimulai, pria itu memikirkan "Keajaiban" ini, sambil berjalan ke kotak undian di sampingnya, dan dengan mudah dia menemukan sebuah kertas, dibukanya, tulisan di atas kertas, sebenarnya adalah nama si ibu pembersih kantor. Pria ini sangat terkejut, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas, tulisan tangan di atas meski tidak sama, tapi namanya semuanya sama yang ditulis, satu per satu itu adalah nama ibu pembersih kantor tsb!! '' Mata pria ini memerah, dia menyadari bahwa di dunia ini benar-benar memiliki keajaiban, tapi keajaiban itu tidak akan jatuh dari surga, tapi Tuhan lah yg menciptakan keajaiban melalui manusia...

Senin, 25 September 2017

Memberi

Di depan gerbang suatu jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta. Ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang dan menaruh kaleng di depan dia duduk. Dia berharap orang-orang yang lalu lalang merasa iba mendengar gesekan biolanya dan memberinya sedikit uang. Pada suatu hari seorang pria yang berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja pengemis itu menolak, dan berkata "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Tetapi orang tersebut terus membujuk agar si pengemis mau meminjamkan biolanya, meski hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya pengemis buta itu, dengan segan memberikan biola tuanya. Setelah itu, dia mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu syahdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang, membuat semua yang lewat berhenti dan mereka mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang, membuat semua orang terdiam, terhanyut oleh gesekan biolanya. Si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang. Ternyata tidak cuma satu tapi beberapa lagu dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya iapun harus menyelesaikan permainannya, dan sambil mengucapkan terimakasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis dengan berlinang air mata dan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya "Paganini". SANG MAESTRO BIOLA PAGANINI, TELAH MEMBERI BANTUAN SESUAI DENGAN PROFESINYA. Banyak cara bagi kita untuk menjadi seperti "Paganini" dalam memberi pada orang lain.

Minggu, 24 September 2017

Lembah Lolipop

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati sebuah lembah yang diberi nama Lembah Lolipop karena di lembah itu penuh dengan permen lollipop yang beraneka ragam. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama-sama. Di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak sekali permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa dan rupa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah Lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi banyak orang. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Ia terhenyak dengan pertanyaan tersebut, ia pun menjawab pertanyaan tersebut: “Emm permennya belum dimakan sama sekali. Saya sibuk mengumpulkan permennya sehingga lupa untuk mencicipi permen tersebut.” Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali.. Saya memanggil-manggil kamu, tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali! " Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama! Setelah itu dia menceritakan juga ada beberapa permen-permen langka yang bisa diambil hanya jika kita tau lokasi permen tersebut. Permen langkanya luar biasa loh. Nah lihatlah ini” Bib memperlihatkan permen langka yang bentuk serta rasanya luar biasa. Yang jika diberi nilai maka nilainya 100 x dari permen biasa. Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah tersebut. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya. Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya. Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob dilembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen dan lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia. Banyak orang yang ketika melihat peluang mereka menjadi serakah dan makin serakah. Seluruh hidupnya terfokuskan untuk mengumpulkan kekayaan.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Nasib bisakah diubah?

Alksah hidup lah seorang peramal terkenal bernama Chen pau lie dan seorang anak laki-laki tunggalnya bernama Chen wen cien disebuah kota kecil di cina selatan, pak Lie umurnya sudah 60 tahun dan anaknya baru berumur 19 tahun sedangkan istri dari pak Lie telah meninggal waktu Wen Cien berumur 15 tahun, bapak dan anak ini hidup dengan serba bercukupan, hal ini dikarenakan pak Lie selain menjadi peramal terkenal yang ramalannya selalu tepat dia juga adalah tabib terkenal juga, tugas Wen cien setiap pulang sekolah adalah meracik obat-obatan di apotik mereka bersama dua orang pembantunya sementara pak Lie sibuk melayani pasien yang sangat banyak setiap harinya.

Begitulah kegiatan keseharian bapak dan anak tersebut, Pada suatu malam pak Lie coba meramal nasib anaknya, alangkah terkejutnya pak Lie melihat hasil dari ramalan itu, ternyata Wen Cien anak kesayangannya tidak berumur panjang dan meninggal di usia yang sangat muda yaitu pada umur 20 tahun. Pak Lie sangat terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan ini, keesokan hari pagi-pagi buta pak Lie pergi ke gunung untuk menemui gurunya, berharap ramalannya salah.

Tapi apa mau dikata, guru pak Lie juga mengatakan hal yang sama, dengan langkah yang gontai pak Lie pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah pak Lie terus melamun " kenapa anak yang begitu baik harus mati muda, siapa lagi penerus ku, buat apa harta ku berlimpah tetapi anakku satu-satunya tidak dapat ku pertahankan dan akan mati muda" gumannya dalam hati. Pak lie tidak sanggup melihat anak kesayangannya meninggal dihadapannya.

Pak Lie pun memanggil Wen Cien "anakku kamu sudah dewasa, menurut adat nenek moyang kita kamu harus pergi berkelana mencari ilmu, kini waktunya telah tiba anakku " kata pak Lie sambil meneteskan air mata, sebenarnya tak ada adat seperti itu dalam keluarga pak Lie, ini hanya ide dari pak Lie karena dia tak mau melihat anak kesayangan meninggal di hadapannya.

Wen cien pun bertanya "kenapa papa menangis? kalau papa rasa berat, kita langgar aja adat keluarga kita itu, lagipula siapa yang membantu papa nanti" pak Lie pun tersadar dan berpura-pura tegar dihapusnya air mata "Anakku adat tidak boleh dilanggar dan kamu jangan kawatirkan papa, kan ada dua pembantu kita yang setia mendampingi papa, besok pagi-pagi kamu sudah harus berangkat anakku "

Keesok paginya Wen Cien pun berangkat dengan bekal dan uang yang cukup banyak karena pak Lie tahu anaknya tak akan kembali lagi, sebagian uang tabungan pak Lie diserahkan kepada anaknya, pak Lie berharap anak nya dapat menikmati sisa hidupnya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun pak lie pun kembali tegar meskipun terkadang pak Lie bersedih bila teringat pada anak kesayangannya itu. Setelah kepergian Wen Cien, pak Lie pun menjadi seorang dermawan yang baik hati, baginya harta tidak penting lagi, pak Lie selalu memberi pengobatan gratis terhadap pasien-pasiennya yang kurang mampu juga terhadap kedua pembantunya, pak Lie sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri, setiap ada kegiatan sosial atau ada pembangunan Vihara pak Lie selalu menyumbang.

Pada suatu malam setelah hujan yang begitu deras berhenti, pintu rumah Pak Lie diketuk oleh seseorang berkali-kali, pak Lie pun bergegas keluar dari kamar, pak Lie menebak pasti ada orang yang butuh pertolongan, pak Lie pun segera membukakan pintu... dan alangkah terkejutnya pak Lie..pak Lie tidak percaya orang yang berdiri dihadapannya dengan seragam pengawai pemerintahan.

"....A cien.....Acien anak ku...benarkah itu...."teriak pak Lie dengan bibir yang bergetar dan mengucek-ucek matanya.

"Benar pak ini saya anak papa" jawab pemuda itu, lalu merekapun berpelukan rindu bertahun2 tidak bertemu, tapi dalam benak pak Lie berkata " ini tidak mungkin ....ini tidak mungkin...pu khe neng..." diusap-usapnya wajah pemuda itu pak Lie masih tidak percaya kalau itu Wen Cien anaknya atau ini arwahnya sebab seharusnya Wen cien telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Keesok harinya pak Lie masih penasaran dan tidak percaya kalau anaknya masih hidup, pak Lie pun bergegas pergi kegunung bersama Wen Cien utk menjumpai gurunya.

Sesampai di padepokan gurunya, setelah memberi hormat pak Lie pun langsung berkata "guru ramalan kita sudah salah guru...lihat Wen Cien anakku masih hidup dan sekarang menjadi pejabat "

Guru pak Lie " ehmmmm...tidak mungkin...tidak mungkin " sambil tangannya menghitung2 " ini tidak mungkin... semua hitungan kita benar...ada apa ini " guru pak Lie menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus janggutnya yang panjang.

Akhirnya guru pak Lie pun mengintrograsi Wen Cien " Nak coba katakan pada kakek guru apa yang kamu lakukan setelah meninggalkan rumah",

Wen Cien pun bercerita " Setelah pergi dari rumah aku tidak tahu mau kemana dengan menaiki kuda, aku telusuri jalan tanpa tujuan setiap kota yang ku jumpai aku beristirahat dan esoknya ku lanjutkan kembali perjalanan... lalu tiba disebuah sungai aku melihat seorang ibu dgn ketiga anaknya yang masih kecil menangis di pinggir jembatan, ku perhatikan terus ibu itu eh..ternyata dia dan ketiga anaknya akan melompat kesungai yang dalam itu...aku pun bergegas menahan ibu itu agar tidak tidak terjun kesungai tersebut..."

Ibu itu berteriak "mengapa kamu menolongku anak muda? AKU INGIN MATI!..."

Wen Cien pun berkata "kenapa ibu mau bunuh diri...? lagi pula kenapa anak-anak juga akan ibu bunuh apa yang terjadi ibu...? "

Ibu itu menjawab" suamiku baru saja meninggal... rumah serta ladang kami di sita oleh tengkulak, sekarang kami tidak memiliki apa-apa lagi, sebenarnya saya hanya ingin bunuh diri sendirian karena tidak tahan lagi menanggung beban yang sangat berat, tetapi kalau saya meninggal, bagaimana anak-anak saya? siapa yang memilihara mereka? jadi mereka saya bawa serta."

Mendengar cerita itu Wen Cien tergugah hatinya dan memberikan uang yang cukup banyak kepada ibu itu "Bu ini ada sedikit uang semoga bisa meringan kan beban ibu, " wah ini terlalu banyak anak muda" jawab ibu itu " tidak bu...saya juga minta izin tinggal bersama ibu karena di sini saya tidak punya saudara" sahut Wen Cien.

Wan Cien pun tinggal bersama ibu itu dan membantu mengambangkan usaha keluarga ibu itu. Kehidupan merekapun sekarang jauh lebih baik dari waktu suaminya masih hidup. Dan pada suatu hari ada pengumuman dari kota raja bahwa ada penerimaan pejabat negara.Wen Cien pun ikut ujian dan akhirnya lulus dgn nilai yang sangat baik serta di terima menjadi pejabat negara.

Mendengar cerita Wen Cien Pak Lie dan gurunya termenung sejenak sambil jari-jari mereka menghitung "...Aha....ternyata nasib bisa dirubah " celoteh guru Pak Lie.

Ternyata nasib bisa di rubah itulah kenyataannya, Wen Cien dan pak Lie telah merubah nasib mereka dengan berbuat kebajikan.

>> Cerita ini tak jauh berbeda dengan kisah LIAU FAN.. yang merubah nasib buruknya dengan berbuat kebajikan...dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan tak ada satupun makhluk adi daya yang menguasai nasib kita ...kita lah sendiri yang mengendalikan nasib kita ...dari hasil karma masa lampau dan karma saat ini.....nasib baik juga akan mejadi buruk kalau di kehidupan ini kita isi dengan perbuat buruk sebaliknya nasib buruk akan menjadi baik apabila kita isi kehidupan kita dengan perbuatan-perbuatan baik.

Kamis, 27 Juli 2017

Pacar Sebulan

Seorang istri menemukan chatt mesra suaminya dgn seorang wanita..... di ponsel suaminya yg kebetulan ketinggalan dirumah...
Membaca setiap chatt nya....
dengan perasaan yg gak bisa dijelaskan seperti apa dan menangis dalam diamnya.... sambil terus membaca.
Setelah itu...
dia mandi dan kesalon menghabiskan waktunya seharian disalon karena ingin membuat kejutan untuk suaminya.
dia mengabaikan telepon dari suaminya yg meneleponnya berkali-kali ke ponselnya...
dia juga tidak menjawab chatt suaminya yg meminjam hp temannya
dia lalu mengirimkan hp suaminya melalui gojek ke kantornya

Malam pun tiba ...
Suami pulang kerumah dan kaget melihat kondisi rumah yg berantakan tapi melihat istrinya cantik dengan dress seksi yg dipakainya
Dengan bingung suami bertanya
Kamu kenapa ?
dia menjawab dengan suara manja
"Aku mau menjadi pacar kamu aja selama sebulan ini"
Suaminya makin bingung dan langsung mencari hp yg ketinggalan tadi pagi.
Hp ktemu dalam kondisi sudah lowbatt.

dan tiba waktunya buat makan malam, suamipun bertanya kepada istrinya masak apa kamu hari ini?
Tapi istrinya tersenyum dan mengajak dinner diluar
Karna lapar, suamipun langsung mengiyakan ajakan istrinya. dimobil istrinya minta dinner di Resto Steak yg terkenal mahal dan enak. Padahal biasanya sang istri lebih memilih tempat yg ekonomis karna uangnya bisa digunakan untuk kepentingan lain..

Stelah itu mreka pun pulang tapi lagi2 suami dibikin bertanya tanya dengan apa yg dilakukan istrinya karna mulai malam ini mreka pisah kamar , istrinya mengulang lagi kata kata "keinginannya untuk menjadi pacarnya selama sebulan"
dan karna pacaran mereka harus tidur terpisah.

Hari berganti hari tak terasa sudah seminggu
Rumah makin kotor tidak dibersihkan, tidak ada lagi sarapan pagi yg disiapkan untuknya bahkan untuk kopipun suami harus bikin sendiri.
Sekarang baju kotornya numpuk di mesin cuci,
Sekarang tidak adalagi ucapan hati2 dijalan ya pah yg selalu diucapkan istrinya ...
Sekarang suamipun pergi dengan kondisi pintu kamar istrinya masih terkunci...
Tapi
Sekarang istrinya perhatian lewat chatt...
menanyakan dia sudah lunch atau belum dan
Sekarang sering mengajak kencan nonton film terbaru dengan janjian di bioskop tempat suaminya juga nonton bareng selingkuhannya.
Sekarang kalau ketemu istrinya selalu tampil sangat cantik karna habis nyalon dulu dan wangi parfum yg sama, yg selalu dipakai slingkuhan suaminya

Sang istri tahu semua dari chatt di hp suami dengan selingkuhan nya. sang istri tau apa parfumnya, dimana salon perawatannya, karna selingkuhan suaminya meminta jemput disalon itu dan minta dibelikan parfum merk tersebut pada suaminya juga makan di resto steak terkenal dan bioskop tempat mreka nonton skarang.

Suaminya makin lama pun makin menyadari ada sesuatu yg beda dan lagi2 menanyakan sama istrinya kamu kenapa ? Tapi selalu dijawab dengan " Aku mau jadi pacar kamu aja" sambil tersenyum.

Pada minggu ke 2 suaminyapun sudah merasa tidak nyaman dengan perubahan istrinya dan mengajak istrinya bicara karna rumah semakin kotor dan anak2 mreka bentar lagi slesai liburan dirumah neneknya.
Cucian baju kotor numpuk bahkan sudah setengah pakaian dilemari yg pindah kemesin cuci menumpuk di sana
Tidak ada lagi aroma masakan tiap pagi atau malam sepulang dia kerja yg disiapkan istrinya
Dia menyatakan keberatan dengan sikap istrinya yg lebih suka kesalon dalam 2minggu ini dan knapa setiap ditanya perubahannya istrinya hanya menjawab aku mau jadi pacar kamu aja

Dengan santai istrinyapun menjelaskan seorang pacar :
1. tidak menyiapkan sarapan juga makan malam buat mreka jadinya tidak bau dapur saat ketemu berangkat dan pulang kerja
2. tidak membereskan rumahmu juga tidak mencuci , setrika dan membereskan lemari pakaianmu juga tidak mengurus anak2mu
3. tidak memikirkan untuk menghemat uangmu
4. Punya banyak waktu untuk merawat dirinya disalon karna gak harus mengurus hidupmu
5. Bisa tampil cantik dan wangi didepanmu

karna pacar berbeda dengan istri....
Aku mau menjadi pacarmu saja bukan istrimu....
seperti prempuan yg chatt denganmu...
yg kamu bilang lebih perhatian dari aku ,
lebih menarik dan selalu wangi saat bertemu denganmu dan
kmu nilai lebih baik

padahal dia hanya melakukan sedikit hal saja untukmu dibanding apa yg aku lakukan untukmu dan hidupmu juga anak2mu
Pakai logikamu dalam menjalani hidup
Kalau kmu ingin aku seperti pacarmu itu sediakan aku 2 PRT untuk membantuku

Note :
Hai lelaki jangan suka bandingin istri kalau ngasih uang bulanan aja masih pas-pasan
Apalagi sampe slingkuh
Banyak2 bersyukur jika istrimu wanita yg baik dan sudah mengurus hidupmu dengan baik.